NABI NUH BERASAL DARI JAWA ?

image

Sejak ditemukannya situs kapal Nabi Nuh AS oleh
Angkatan Udara Amerika serikat, tahun 1949, yang
menemukan benda mirip kapal di atas Gunung Ararat-
Turki dari ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 M). Dan
di muat dalam berita Life Magazine pada 1960, saat
pesawat Tentara Nasional Turki menangkap gambar
sebuah benda mirip kapal yang panjangnya sekitar 150
M. Penelitian dan pemberitaan tentang dugaan kapal
Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark) terus berlanjut hingga
kini.

Seri pemotretan oleh penerbang Amerika Serikat,
Ikonos pada 1999-2000 tentang adanya dugaan kapal
di Gunung Ararat yang tertutup salju, menambah bukti
yang memperkuat dugaan kapal Nabi Nuh AS itu. Kini
ada penelitan terbaru tentang dari mana kapal Nabi
Nuh AS itu berangkat. Atau di mana kapal Nabi Nuh AS
itu dibuat?

Baru-baru ini, gabungan peneliti arkeolog-antropolgy
dari dua negara, China dan Turki, beranggotakan 15
orang, yang juga membuat film dokumenter tentang
situs kapal Nabi Nuh AS itu, menemukan bukti baru.
Mereka mengumpulkan artefak dan fosil-fosil berupa;
serpihan kayu kapal, tambang dan paku.

Hasil Laboratorium Noah’s Ark Minesteries
International, China-Turki, setelah melakukan
serangkaian uji materi fosil kayu oleh tim ahli tanaman
purba, menunjukan bukti yang mengejutkan, bahwa
fosil kayu Kapal Nabi Nuh AS berasal dari KAYU JATI
yang ada di PULAU JAWA.

Mereka telah meneliti ratusan sample kayu purba dari
berbagai negara, dan memastikan, bahwa fosil kayu
jati yang berasal dari daerah Jawa Timur dan Jawa
Tengah 100 PERSEN COCOK dengan sample fosil kayu
Kapal Nabi Nuh AS. Sebagaimana diungkap oleh Yeung
Wing, pembuat film documenter The Noah’s Ark, saat
melakukan konfrensi pers di Hongkong, Senin
(26/4/2010) yang lalu.

“Saya meyakini 99 persen, bahwa situs kapal di
Gunung Ararat, Turki adalah merupakan fosil Kapal Nuh
yang ribuan tahun lalu terdampar di puncak gunung
itu, setelah banjir besar menenggelamkan dunia dalam
peristiwa mencairnya gleser di kedua kutub” Jelas
Yeung Wing

Pendapat National Turk
Dr.Mehmet Salih Bayraktutan PhD, yang sejak 20 Juni
1987 turut meneliti dan mempopulerkan situs Kapal
Nabi Nuh AS, mengatakan: “Perahu ini adalah struktur
yang dibuat oleh tangan manusia.”
Dalam artikelnya
juga mengatakan, lokasinya di Gunung Judi (Ararat)
yang disebut dalam Al Qur’an, Surat Hud ayat 44.
Sedangkan dalam injil: Perahu itu terdampar diatas
Gunung Ararat (Genesis 8 : 4).
Menurut peneliti The Noah’s Ark, kapal dibuat di
puncak gunung oleh Nabi Nuh AS, tak jauh dari
desanya. Lalu berlayar ke anta beranta, saat dunia
ditenggelamkan oleh banjir besar.

Berbulan-bulan
kemudian, kapal Nabi Nuh AS merapat ke sebuah
daratan asing. Ketika air menjadi surut, maka
tersibaklah bahwa mereka terdampar di puncak sebuah
gunung.

Bila fosil kayu kapal itu menunjukan berasal dari Kayu
jati, dan itu hanya tumbuh di Indonesia jaman purba,
boleh jadi Nabi Nuh AS dan umatnya dahulu tinggal di
sana.

Saat ini kita dapat saksikan dengan satelit,
bahwa gugusan ribuan pulau itu (Nusantara), dahulu
merupakan daratan yang luas.

Sedangkan Dr. Bill Shea, seorang antropolog,
menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 M
dari situs kapal Nabi Nuh AS. Tembikar ini memiliki
ukiran-ukiran burung, ikan dan orang yang memegang
palu dengan memakai hiasan kepala bertuliskan Nuh.
Dia menjelaskan, pada jaman kuno, barang-barang
tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu untuk
dijual kepada para peziarah situs kapal. “Sejak jaman
kuno hingga saat ini, fosil kapal tersebut telah menjadi
lokasi wisata,” ujarnya.

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH (PPKI)

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH

BAB I
FORMAT PENULISAN KARYA ILMIAH

Skripsi, paper/makalah, laporan penelitian, dan lain sebagainya, memiliki format penulisan tertentu untuk bisa disebut sebagai sebuah karya ilmiah. Uraian di bawah ini membahas format penulisan karya ilmiah berupa skripsi pada Program S-1 Pemerintahan Integratif. Namun beberapa poin penting dalam format penulisan dimaksud bisa dipakai sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah selain skripsi, seperti paper/makalah, artikel dalam jurnal ilmiah, dan lain sebagainya.

A. Bahan dan Ukuran Kertas
Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).
2. Jenis kertas: HVS 80 gram.
3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan) dengan lambang Universitas Negeri Malang sebagai pembatas. (Khusus untuk Skripsi. Percetakan umumnya sudah menyediakan kertas pembatas ini).

B. Pengetikan
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci sebagai berikut:

  1. Menggunakan software pengolah kata dengan flatform Windows, seperti MS Word, Excel, dan lain-lain. (Penggunaan software Open Source pengolah kata dengan flatform Linux, seperti Open Office, diperbolehkan asalkan dalam penyerahan file dalam cakram digital (khusus untuk skripsi), file tersebut sudah dikonversi ke PDF dan bisa dibaca dengan Windows).
  2. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran 12 kecuali untuk:
    • Halaman judul sampul/luar (hard cover) dan halaman judul dalam (soft cover), yang menggunakan huruf tegak (kecuali istilah asing) dan dicetak tebal (bold) dengan ukuran font mulai 12 sampai 16 (disesuaikan dengan panjang judul, lihat Lampiran).
    • Catatan kaki (footnotes), yang menggunakan font ukuran 10.
  1. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub sub-bab), memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.
  2. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau bahasa daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul yang hirarkhinya tidak setingkat), dan sejenisnya. Judul sub-sub-sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf tebal (italic-bold atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).
  3. Batas tepi (margin):
    • Tepi atas : 4 cm
    • Tepi bawah : 3 cm
    • Tepi kiri : 4 cm
    • Tepi kanan : 3 cm
  1. Sela ketukan (indensi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
  2. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:

a. Bagian awal dari karya ilmiah termasuk di dalamnya adalah halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:

1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal (lihat Lampiran)

2) Riwayat Hidup dan Kata Pengantar ditulis dengan spasi ganda

3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).

4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran disusun dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).

b. Bagian isi karya ilmiah meliputi Bab I sampai BAB V, disusun dengan menggunakan spasi ganda.

c. Bagian akhir karya ilmiah terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal dan indensi gantung (jarak antar referensi dengan spasi ganda), dan Lampiran yang ditulis dengan
spasi tunggal atau disesuaikan dengan bentuk/jenis lampiran.

  1. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:
    1. a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan huruf besar/kapital, dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku umum seperti PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri tanda titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan Seminar dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal)
    2. b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
    3. c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya.
      Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case)
      kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
    4. d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebal- miring (bold-italic)
    5. e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab dimulai dengan
      huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata dimulai
      dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub sub- sub-sub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic)
    6. f. Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-bab, dan seterusnya (headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings hierarchy dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya (lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru dibuat dengan indensi 1 cm). Sementara penulisan points/items hierarchy tidak sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri), melainkan mengikuti poin-poin/item-item dimaksud atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan estetika. Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c).
    7. g. Penulisan headings hierarchy (sub-judul) – sejajar batas tepi kiri:
  1. h. Penulisan points/items hierarchy (rincian poin-poin/item-item) – tidak
    sejajar dengan batas tepi kiri (masuk ke dalam, disesuaikan):

Catatan: Poin/Item dan sub-subnya ditulis dengan huruf biasa, kecuali untuk pemberian tekanan, istilah asing, dsb.
g. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan
keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy) dalam sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.

h. Sepanjang memungkinkan, hindari penggunaan hirarkhi sub-judul (headings hierarchy) yang terlalu banyak tingkatannya (sub sub-sub- sub-bab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy).

  1. Bilangan dan satuan:
    a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja. Contoh:
    Umur mesin 10 tahun.
    Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya. 

    b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)

    c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)

    d. Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan
    pecahan yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulis dengan huruf/dieja. Contoh: tiga dua pertiga.

C. Penomoran Halaman

Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halaman-
halaman awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya, adalah sebagai berikut:

  1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan di tengah bagian bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap dihitung.
  2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru yang tidak diisi nomor halaman.
  3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang disajikan menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:

Lampiran 1. Pedoman Wawancara
Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru

D. Tabel dan Gambar

Pembuatan dan penomoran Tabel dan Gambar mengikuti ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
1. Tabel

a. Tabel dalam bagian isi karya ilmiah berisi ringkasan data-data
penelitian yang penting. Data l engkapnya dapat disajikan pada
Lampiran.

b. Tabel disajikan di tengah, simetris/sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan.

c. Kolom-kolom disusun dengan rapi sehingga mudah dibaca.

d. Jarak antara baris dalam tabel adalah satu spasi.

e. Garis batas tabel tidak melampaui batas tepi kertas.

f. Kolom tabel diletakkan sejajar dengan panjang kertas.

g. Tabel boleh diletakkan di tengah halaman di antara baris-baris teks. Dalam hal ini jarak tabel dan kalimat di bawahnya adalah dua spasi.

h. Di atas garis batas tabel dituliskan nomor dan judul tabel, dengan ketentuan:

1) Jika judul tabel terdiri dari dua baris atau lebih, maka spasi
yang digunakan adalah satu spasi. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas garis batas atas tabel.

2) Nomor tabel terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor tabel terdiri dari dua bagian, bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat tabel itu dimuat, dan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh: Tabel 2.5 menunjukkan bahwa tabel itu ada di BAB II dan tabel urutan kelima pada bab itu.

i. Tabel yang memerlukan kertas yang l ebih besar dari halaman naskah dapat diizinkan, tetapi sebaiknya hanya tabel yang jika dilipat satu kali sudah mencapai ukuran halaman naskah yang dimasukkan dalam teks.

j. Dalam setiap tabel tentang data, di bawah tabel tersebut harus dicantumkan sumbernya dengan ukuran huruf (font) 10 dengan
spasi tunggal (lihat Lampiran).

2. Gambar

a. Yang dimaksud dengan gambar adalah bagan, grafik, peta, diagram, atau foto.

b. Garis batas gambar diletakkan sedemikian rupa sehingga garis batas tersebut tidak melampaui batas tepi kertas.

c. Untuk gambar besar, ukurannya diatur agar sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan; sedangkan untuk gambar kecil yang
tampilannya menjadi kurang bagus kalau diperbesar, atur ukuran dan
posisinya agar simetris dengan batas tepi halaman (tidak sejajar, tapi jarak ke tepi kiri dan kanan sama).

d. Di atas gambar disajikan nomor dan judul gambar, dengan ketentuan:

1) Jika judul gambar terdiri dari dua baris atau lebih, spasi yang digunakan adalah spasi tunggal. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas gambar.

2) Nomor gambar terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor gambar terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat gambar itu dimuat, sedangkan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh: Gambar 2.1 menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar urutan pertama pada Bab II.

e. Gambar yang memerlukan halaman yang lebih besar dari halaman naskah disajikan sebagai lampiran.

f. Jika ada keterangan gambar, keterangan tersebut ditulis pada tempat
kosong di bawah gambar (tidak diletakkan di halaman lain).

g. Contoh penyajian gambar bisa dilihat dalam Lampiran.

arifyanto1.wordpress.com

RUMAHKU SURGAKU (PIDATO/KULTUM BAHASA INDONESIA)

RUMAHKU SURGAKU

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, wash sholatu wassalamu ‘ala asrofil anbiyaa i wal mursalin, sayyidina wa habibina wa syafi’ina wa maulana muhammadin wa’ala alihi washohbihi ajma’in, la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘dzim

Al mukarom para Alim Ulim Ulama para Kyai para Ustadz dan Ustadzah yg kami hormati

Khususnya Abah Dr. KH. M. Komari Syaifulloh MA.

Dan bapak-bapak pejabat pemerintah yang hadir, yg kami hormati bapak-bapak pejabat muspika kecamatan, khususnya bapak Kepala Desa yg kami hormati,

Serta hadirin hadirot rokhimakumullah.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yg telah memberikan nikmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita semua sehingga bisa berkumpul disini dalam keadaan sehat wal’afiat, marilah kita bersama-sama mengucapkan ALHAMDULILLAH.

Kedua kalinya sholawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Nabi akhiruzzaman, nabi pemimpin umat yang menyelamatkan manusia dari zaman jahiliyah yang gelap gulita menuju zaman islamiyah yg terang benderang dan semoga kita semua mendapatkan syafa’at beliau kelak diyaumul qiyamah, AMIN ALLAHUMMA AMIN………….

 

Ketiga kalinya pada kesempatan hari ini saya akan mengambil judul Rumahku Surgaku. Materi ini kami tujukan khushusnya kepada kedua mempelai ………. & ……….

Sesuai dengan firman Allah surat Ar-Rum: 21

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-NYA diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

 

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Ayat ini mengandung maksud bahwa tujuan orang berumah tangga adalah hidup bahagia sampai alam akhirat, betul.????…… nopo setiap rumah niku rumah tangganipun bahagia??? Ternyata…… tidak semua orang berumah tangga hidupnya bahagia. Adakalanya nikah baru seminggu cerai, ada yang menikah nikah baru satu bulan pegatan, ada yang nikah sudah satu tahun berantakan, betul…??? bahkan ada yang sudah 10 tahun malah ambur adul padahal cita-citanya adalah rumahku surgaku/ rumah tangga bahagia.

Oh.. sungguh bahagia, hidup bersama keluarga

Penuh kasih sayang mesra, rukun damai sejahtera

Rumahku itulah surgaku di dunia, oh.. sungguh bahagia

“Baiti Jannati”

 

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Setiap orang menikah pasti bercita-cita rumah tangga bahagia, nggih nopo boten??? Maka dari itu saya punya resep supaya rumah tangga bahagia. Resep pertama “didasari rasa cinta”. Orang jawa mengatakan “Tir podo irenge, Sir podo senenge, Ora kentir podo gendhenge, betul.??? Dasarnya CINTA

 

Gegaraning wong ngakrami

Udu brana dudu warna

Nanging ati paritane

Luput pisan keno pisah

Yen gampang luwih gampang

Yen angel-angel kalangkung tan keno tinumbas arto

 

 

Milih jodo kang mas sing ati-ati

Salah sepisan bakal getun tembe buri

Milih jodo mbak yu sing ati-ati

Salah sepisan getune tembe buri

 

SHOLAWAT

Milih jodo ojo mergo rupane

Milih jodo ojo mergo bondone

Milih jodo ojo mergo pangkate

Ammiliho sing kuat agamane

 

Jadi rumah tangga bahagia harus didasari rasa cinta. Coba dilihat mas…. nyawang mbak…. tersenyum. Mbak …nyawang mas….juga tersenyum. Mas….. sampean kulo takoni, waktu sampean nglamar mbak… nopo ngancem??

Pasti keduanya atas dasar cinta

 

Cintaku kepadamu tak akan pernah layu

Bagaikan bunag surga yang mekar selamanya

 

Dasar cinta jangan waktu pengantin baru saja. Kemana-mana bersama, sampai keliling desa terpeleset kulit pisang srreeett…. oh sayangku kau jatuh. Waniat itu lembut….. butuh kasih sayang, hati-hati kalau putus asa bisa nekad.

Saya berpesan kepada mas….& mbak….. supaya menjaga cinta, nggih…… wanita yang baik kalau dipandang selalu senyum, suami pulang kerja disapa dengan baik, gimana mas kabarnya….???  jangan duit yang ditanyakan. Maka dari itu jadi seorang istri yang baik harus nerimo dibelanja sedikit banyak / sedikitpun tidfak dibelanja yang penting bapak pulang dengan selamat’ itulah rumah tangga bahagia.(                          )

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Itulah resep cinta “Tir podo irenge, Sir podo senenge, Ora kentir podo gendhenge, betul.??? Dasarnya CINTA.

Mungkin dari saya cukup sekian, apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati anda semuanya, saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Akhirul kalam

Wassalamualaikum Wr. Wb.

PRANATA HADICARA (BAHASA JAWA)

PRANOTO HADICORO

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mukodimah

 

Wonten ing ngarsanipun poro Kyai, poro Ulama ingkang tansah sumanding kitab suci ingkang tuhu kinabekten panjenenganipun Romo KH…………. ingkang tuhu kinabekten poro pangembating projo ingkang tuhu kinormatan kushusipun panjenenganipun Bopo Camat ugi Bopo Lurah ingkang kinormatan saguning poro tamu ugi poro rawuh sedayanipun ingkang minulyo.

Temanten sarimbit panjenenganipun kang Mas Bagus………. kaleh panjenenganipun Roronimas Ayu…….. inkang nembe bahagio mulyo.monggo kito sareng memuji syukur wonten ngersanipun Gusti Allah ingkang moho welas tur asih dene menopo kito saget pinanggih kanti wilujeng kales ler ing sambikolo kanti ucapan ALHAMDULILLAH, mugi-mugi kito sedoyo tansah pikantuk rahmat, nikmat, taufik, hidayah ugi inayah saking ngarso dalem gusti Allah ingkang moho kuoso.

Selajengipun sholawat ugi salam mugio tetep katur wonten ing ngarso dalem gusti kito kanjeng Nabi Muhammad SAW.Nabi panutan umat Nabi Akhiruzzaman ugi mugi-mugi kito sedoyo sageto pikantuk syafa’atipun wonten ing dinten kiamat mangke AMIN ALLAHUMMA AMIN.

Ing mriki kawulo ingkang tinanggenang dados pranoto hadicoro wonten toto laksono hadicoro mangayu bagyo dawupipun Nini temanten ugi Kaki temanten sarrimbit badhe ngaturaken reroncengen toto laksono hadicoro inkang bade kalampahan wonten ing saat puniko.

Hadicoro ingkang ongko SETUNGGAL : Ingih meniko PAMBUKO.

Kalajengaken totolaksono hadicoro ingkang ongko KALEH : Inggih meniko ungeleng waosan AYAT-AYAT SUCI AL-QUR’AN ingkang bade dipun sarirani deneng Sederek Ust…………

Dene toto laksono hadicoro ingkang kaping TIGO : Inggih meniko ATUR PASRAH saking keluarga Temanten Kakung.

Kalejengaken totolaksono hadicoro SELAJENGIPUN inggih meniko ATUR PANAMPI Keluarga Putri.

Dene totolaksono hadicoro ingkang kaping SEKAWAN : Inggih meniko ULAR-ULAR TEMANTEN inkang bade diparingaken dene Romo KH……..Saking……….

Dene totolaksono hadicoro ingkang PUNGKASAN : Inggih meniko DO’A PENUTUP.

Mekaten kulo wau reroncengan totolaksono hadicoro ingkang bade kalampahan wonten ing saat puniko,monggo kito awiti totolaksono hadicoro ingkang ongko SEPINDAH inggih meniko PAMBUKO monggo sareng-sareng kito bikak kanti waosan SUROTUL FATIHAH mugi-mugi totolaksono ingkang bade kalampahan sageto mlampah kanti wilujeng kates ing sambikolo AL-FATIHAH…….AMIN…

Kalajengaken totolaksono hadicoro inkang ongko KALEH : Inggih meniko unggeling AYAT-AYAT SUCI AL-QUR’AN ingkang bade kaaturaken deneng SEDEREK……..wekdal soho papan kawulo kulo aturaken sumonggo.

(Bilih sampun cekap kawulo aturaken maturnuwun ing sedayanipun)

Dene totolaksono hadicoro ingkang sak CANDAK IPUN Inggih meniko ATUR PASRAH Keluarga temanten KAKUNG ingkang bade dipun sarerani panjenenganipun Bapak…….. (Bilih sampun rampung kawulo aturaken ing sedoyonipun).

Atur panampi saking keluarga PUTRI ingkang deneng sarirani deneng Bopo……… (Medal soho papan kulo semangga aken monggo) poro palenggah sedayanipun ingkang kinormatan titi lancinipun totolaksono hadicoro ingkang kito tenggo-tenggo inggih meniko ULAR-ULAR MANTEN ingkang bade dipun parengaken deneng Kyai……..Saking……. wonten ing ngarsanipun Romo Kyai (Wedal soho papan kulo semangga aken monggo) sak cekapipun kasuwun ugi barokah dungonipun.

Bilih cekap mekaten kulo wau ular-ular wonten ingkang sampun diparengaken panjenenganipun kaleh KH………… mugi-mugi manfaat bagi kito sedoyo,khususipun temanten Sarimbit ingkang bade wujudaken rumah tangga sakinah,mawadah,warohmah mugi-mugi sageto wujud kanti ridhonipun gusti inkang murbaeng dumade inggih meniko Allah SWT. ALLAHUMMA AMIN.

Ing mriki kawulo ingkang tinanggenah dados pranoto hadicoro wonten ing totolaksono hadicoro mangayu bgyo daupipun Nini Temanten ugi Kiki Temanten Sarimbit bok bilih wonten sedoyo kelepatan kawulo nyuwun nguning pangarsaning ugi minongko saking wakil keluarga monggo dedaharan ugi unju’an ingkang sampun kechaosaken,monggo dipun rahapi kanti mardikaneng manah tuwin monggo kito akhiri hadicoro meniko kanti waosan ALHAMDULILLAH.

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

MC PENGAJIAN UMUM BAHASA INDONESIA


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Al-Mukarom para alim ulama’,para kyai,para ustadz dan ustadzah yang kami hormati khususnya ………………………

Pejabat pemerintah baik sipil maupun militer yang kami hormati.

Hadirin hadirot rohimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang telah membari rahmat, nikmat, taufik, hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga kita bisa bertemu dalam keadaan sehat wal afiat. Mari kita bersama-sama mengucapkan ALHAMDULILLAH.

Kedua kalinya sholawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepda junjungan kita Nabi besar MUHAMMAD SAW nabi akhiruz zaman.Nabi pemimpin umat yang manyelamatkan manusia dari zaman jahiliyah yang gelap gulita zaman yang tidak kenal peri kemanusiaan menuju zaman islamiyah yang terang benderang yang cinta kasih terhadap sesama.Semoga kita semua bisa meneruskan perjuangan beliau dan mendapat syafa’at diakhir kiamat nanti ALLAHUMMA AMIN…………..

Ketiga kalinya disini kami sebagai pembawa acara akan membacakan susunan acara yang akan berlangsung pada saat ini.

Acara pertama pembukaan.

Disusul acara yang kedua pembacaan ayat-ayat suci  Al-Qur’an.

Adapun acara yang ketiga pembacaan sholawat nabi yang akan dipimpin oleh saudara/i……………..

Dilanjutkan acara yang keempat sambutan-sambutan.

Sambutan pertama akan disampaikan oleh ketua panitia,kepada saudara ………………waktu dan tempat dihaturkan.

Adapun sambutan yang kedua akan disampaikan oleh Bapak Kepala Desa.

Sambutan yang ketiga akan disampaikan oleh Bapak Camat.

Acara selanjutnya adalah acara yang dinanti-nanti untuk pengajian akbar dalam rangka……………………yang akan dasampaikan oleh K.H………………. dari………………..dan diakhiri dengan do’a.

Hadirin yang berbahagia demikianlah susunan pada saat ini.Untuk maepersingkat waktu marilah kita buka acara ini dengan bacaan surotul Fatihah mudah-mudahan acara ini dapat berlangsung dengan lancar Al-Fatih.

Mari kita lanjutkan acara yang kedua penbacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang akan disampaikan oleh saudara/i ……………….kepada beliau waktu dihaturkan. Demikianlah pembacaan ayat-ayat  suci Al-Quran yang telah disampaikan ustadz………….semoga kita semuanya senantiasa mendapatkan hidayah dari ALLAH SWT Allahumma amin.

Selanjutnya marilah kita bersama-sama membaca sholawat nabi dalam hal ini akan dipimpin oleh ………….kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.

Menginjak acara selanjutnya sambutan-sambutan,sambutan pertama yang akan disampaikan oleh ketua penyelenggara peringatan ………………..yang akan disampaikan oleh bapak……………….kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.         Kepada beliau diucapkan terima kasih.

Menginjak sambutan yang kedua bapak Kepala Desa …………………kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.Kepada beliau diucapkan terima kasih.                 Adapun sambutan yang terakhir yang akan disampaikan oleh Bpak Camat……………maka kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.Kepada beliau diucapkan terima kasih.                                                                                                                                        Hadirin yang berbahagia tibalah saatnya waktu yang kita nanti-nantikan yaitu ceramah agama yang akan disampaikan oleh da’i sejuta umat yaitu Bapak ………………dari……………………..Kepada beliau kami haturkan dan kami mohon ditutup dengan do’a.

Demikianlah pengajian akbar yang telah disampaikan olah Bapak KH……………….,mudah-mudahan kita semuanya bisa mengamalkan apa yang disampaikan oleh beliau

Dengan demikian selesailah sudah rangkaian acara yang telah berlangsung pada saat ini.Kami sebagai pembawa acara apabila ada kesalahan untuk hal0hal yang tidak berkenan didalam menghantarkan acara pada saat ini kami sebagai MC mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Marilah acara saat ini kita tutup dengan bacaan Hamdallah bersama-sama.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ILMU DAN METODOLOGI DAKWAH

ILMU DAKWAH Disusun oleh ARIF YANTO

Pengertian dakwah bagi kalangan awam disalah artikan dengan pengertian yang sempit terbatas pada ceramah, khutbah atau pengajian saja, padahal pengertian dakwah sangat luas.

Berikut sedikit penjelasan mengenai dakwah dan kajiannya.

a. Pengertian Dakwah

Dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 10 macam yaitu:1. Mengajak dan menyeru, 2. Berdo’a, 3. Mendakwa (red. Menuduh), 4. Mengadu, 5. Memanggil, 6. Meminta, 7. Mengundang, 8. Malaikat Israfil, 9. Gelar, 10. Anak angkat.

Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu. Definisi dakwah dari literature yang ditulis oleh pakar-pakar dakwah antara lain adalah:

Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6)

Dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).

Merubah suatu situasi ke situasi yang lebih baik sesuai ajaran Islam (Muhammad Al Bahiy).

Memotivasi manusia untuk berbuat kebaikan dan petunjuk, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar, untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat (Aly Mahfudz).

 

KESIMPULAN :

Dakwah secara bahasa berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu.

Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda.

Dimensi Dakwah:

1. Dakwah bi ahsan Al-Qawl (Kerisalahan)

a) Irsyad (internalisasi dan transmisi)

b) Tabligh (transmisi dan difusi)

2. Dakwah bi ahsan Al-Amal (Kerahmatan)

a) Tadbir Islam (institusionalisasi = pengorganisasian)

b) Tathwir/Tamkin Islam (transformasi = pemberdayaan dan pengembangan)

 

DAFTAR PUSTAKA Kusnawan, Aep, M.Ag, dkk. 2009. Dimensi Ilmu Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.

KETERAMPILAN BERBICARA

I. Kemampuan Dasar dalam Kegiatan
Berbicara
A. Berdialog
Berdialog dapat diartikan sebagai pertukaran
pikiran atau pendapat mengenai sutu topik
tertentu antara 2 orang atau lebih. Fungsi
utama berdialog adalah bertukar pikiran,
mencapai mufakat atau merundingkan
sesuatu masalah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
berdialog adalah :
1) Bagaimana menarik perhatian
2) Bagaimana cara mulai dan memprakarsai
suatu percakapan
3) Bagaimana menyela, mengoreksi,
memperbaiki, dan mencari kejelasan
4) Bagaimana mengakhiri suatu percakapan
B. Menyampaikan Pengumuman
Menyampaikan pengumuman berarti
menyampaikan sesuatu hal yang perlu
diketahui oleh khalayak ramai. Kegiatan ini
dapat diwujudkan dalam bentuk pidato. Ciri-
ciri yang harus diperhatikan dalam membaca
pengumuman di antaranya , yaitu volume
suara harus lebih keras, intonasi yang tepat,
dan gaya penampilan yang menarik.
C. Menyampaikan Argumentasi
Salah satu proses komunikasi untuk
menyampaikan argumentasi karena harus
mempertahankan pendapat, yaitu debat.
Setiap pihak yang berdebat akan mengajukan
argumentasi dengan memberikan alasan
tertentu agar pihak lawan atau peserta
menjadi yakin dan berpihak serta setuju
terhadap pendapat-pendapatnya (Laksono,
2003:20).
D. Bercerita
Manfaat bercerita di antaranya, yaitu (1)
memberikan hiburan, (2) mengajarkan
kebenaran, dan (3) memberikan keteladanan.
Seorang pendongeng dapat berhasil dengan
baik apabila ia dapat menghidupkan cerita.
Artinya, dalam hal ini pendongeng harus
dapat membangkitkan daya imajinasi anak.
Untuk itu, biasanya pendongeng
mempersiapkan diri dengan cara : (1)
memahami pendengar, (2) menguasai materi
cerita, (3) menguasai olah suara, (4)
menguasai berbagai macam karakter, (5)
luwes dalam berolah tubuh, dan (6) menjaga
daya tahan tubuh.
Selain itu, terdapat enam jurus mendongeng,
yaitu : (1) menciptakan suasana akrab, (2)
menghidupkan cerita dengan cara memiliki
kemampuan teknik membuka cerita,
menciptakan susana dramatik, menutup yang
membuat penasaran, (3) kreatif, (4) tanggap
dengan situasi dan kondisi, (5) konsentrasi
total, dan (6) ikhlas.
Nadeak (1987) mengemukakan 18 hal yang
berkaitan dengan bercerita, yaitu : (1) memilih
cerita yang tepat, (2) mengetahui cerita, (3)
merasakan cerita, (4) menguasai kerangka
cerita, (5) menyelaraskan cerita, (6) pemilihan
pokok cerita yang tepat, (7) menyelaraskan
dan menyarikan cerita, ( menyelaraskan
dan memperluas, (9) menyederhanakan
cerita, (10) menceritakan cerita secara
langsung, (11) bercerita dengan tubuh yang
alami, (12) menentukan tujuan, (13)
mengenali tujuan dan klimaks, (14)
memfungsikan kata dan percakapan dalam
cerita, (15) melukiskan kejadian, (16)
menetapkan sudut pandang, (17)
menciptakan suasana dan gerak, (1
merangkai adegan.
II. Kemampuan Lanjutan dalam Kegiatan
Berbicara
A. Musyawarah
Musyawarah mengandung arti perundingan,
yaitu membicarakan sesuatu supaya
mencapai kata sepakat. Dalam suatu
musyawarah yang penting adalah
kepentingan orang banyak, setiap orang
mengesampingkan kepentingan pribadi demi
kepentingan umum.
Dalam musyawarah biasanya terdapat
perbedaan pendapat, tetapi perbedaan itu
harus dipadukan. Bila tidak, maka biasa
diambil voting (suara terbanyak). Itulah hal
yang istimewa dari musyawarah yang
berbeda dengan diskusi. Dalam musyawarah
selalu ada kesimpulan.
B. Diskusi
Nio (dalam Haryadi, 1981:6 menjelaskan
bahwa diskusi ialah proses pelibatan dua
orang atau lebih individu yang berinteraksi
secara verbal dan tatap muka, tukar-menukar
informasi untuk memecahkan masalah.
Sementara itu, Brilhart (dalam Haryadi, 1997:6
menjelaskan diskusi adalah bentuk tukar
pikiran secara teratur dan terarah dalam
kelompok besar atau kelompok kecil dengan
tujuan untuk diskusi ialah proses pengertian,
kesepakatan, dan keputusan bersama
mengenai suatu masalah. Dari kedua batasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi
diskusi adalah :
1. partisipan lebih dari seorang
2. dilaksanakan dengan bertatap muka
3. menggunakan bahasa lisan
4. bertujuan untuk mendapatkan kesempatan
bersama
5. dilakukan dengan cara bertukar informasi
dan tanya jawab
Ketika menyampaikan sanggahan, hendaklah
disampaikan secara santun, yaitu dengan
cara :
1. pertanyaan dan sanggahan diajukan
dengan jelas dan tidak berbelit-belit,
2. pertanyaan dan sanggahan diajukan
secara santun, menghindari pertanyaan,
permintaan, dan perintah langsung,
3. diusahakan agar pertanyaan dan
sanggahan tidak ditafsirkan sebagai bantahan
atau debat.
Sementara itu, dalam memberikan tanggapan
pun harus dipenuhi 4 hal, yaitu :
1. jawaban atau tanggapan harus
berhubungan dengan pertanyaan,
2. jawaban harus objektif dan memuaskan
berbagai pihak,
3. prasangka dan emosi harus dihindarkan,
4. bersikap jujur dan terus terang apabila
tidak bisa menjawab.
C. Pidato
Sebelum melakukan pidato, hal yang perlu
diperhatikan adalah analisis terhadap :
1. Jumlah pendengar
2. Tujuan mereka berkumpul
3. Adat kebiasaan mereka
4. Acara lain
5. Tempat berpidato
6. Usia pendengar
7. Tingkat pendidikan pendengar
8. Keterkaitan hubungan batin dengan
pendengar
9. Bahasa yang biasa digunakan
Pedoman untuk membuka pidato yang baik
adalah :
1. Langsung menyebutkan pokok persoalan
2. Melukiskan latar belakang masalah
3. Menghubungkan dengan peristiwa
mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi
pusat perhatian khalayak.
4. Menghubungkan dengan peristiwa yang
sedang diperingati
5. Menghubungkan dengan tempat
komunikator berpidato
6. Menghubungkan dengan suasana emosi
yang tengah meliputi khalayak
7. Menghubungkan dengan kejadian sejarah
yang terjadi masa lalu
8. Menghubungkan dengan kepentingan vital
pendengar
9. Memberikan pujian kepada khalayak atas
prestasi mereka
10. Memulai dengan pertanyaan yang
mengejutkan
11. Mengajukan pertanyaan provokatif atau
serentetan pertanyaan
12. Menyatakan kutipan
13. Menceritakan pengalaman pribadi
14. Mengisahkan cerita faktual, fiktif atau
situasi hipotesis
15. Menyatakan teori atau prinsip-prinsip
yang diakui kebenarannya
16. Membuat humor.
Adapun cara menutup pidato adalah :
1. Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar
pembicaraan
2. Menyatakan kembali gagasan utama
dengan kalimat dan kata yang berbeda
3. Mendorong khalayak untuk bertindak
4. Mengakhiri dengan klimaks
5. Menyatakan kutipan Alquran, sajak,
peribahasa atau ucapan para ahli
6. Menceritakan tokoh yang berupa ilustrasi
dari tema pembicaraan
7. Menerangkan maksud sebenarnya pribadi
pembicara
8. Menguji dan menghargai khalayak, dan
membuat pernyataan yang humoris atau
anekdot lucu.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: