PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH (PPKI)

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH

BAB I
FORMAT PENULISAN KARYA ILMIAH

Skripsi, paper/makalah, laporan penelitian, dan lain sebagainya, memiliki format penulisan tertentu untuk bisa disebut sebagai sebuah karya ilmiah. Uraian di bawah ini membahas format penulisan karya ilmiah berupa skripsi pada Program S-1 Pemerintahan Integratif. Namun beberapa poin penting dalam format penulisan dimaksud bisa dipakai sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah selain skripsi, seperti paper/makalah, artikel dalam jurnal ilmiah, dan lain sebagainya.

A. Bahan dan Ukuran Kertas
Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).
2. Jenis kertas: HVS 80 gram.
3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan) dengan lambang Universitas Negeri Malang sebagai pembatas. (Khusus untuk Skripsi. Percetakan umumnya sudah menyediakan kertas pembatas ini).

B. Pengetikan
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci sebagai berikut:

  1. Menggunakan software pengolah kata dengan flatform Windows, seperti MS Word, Excel, dan lain-lain. (Penggunaan software Open Source pengolah kata dengan flatform Linux, seperti Open Office, diperbolehkan asalkan dalam penyerahan file dalam cakram digital (khusus untuk skripsi), file tersebut sudah dikonversi ke PDF dan bisa dibaca dengan Windows).
  2. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran 12 kecuali untuk:
    • Halaman judul sampul/luar (hard cover) dan halaman judul dalam (soft cover), yang menggunakan huruf tegak (kecuali istilah asing) dan dicetak tebal (bold) dengan ukuran font mulai 12 sampai 16 (disesuaikan dengan panjang judul, lihat Lampiran).
    • Catatan kaki (footnotes), yang menggunakan font ukuran 10.
  1. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub sub-bab), memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.
  2. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau bahasa daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul yang hirarkhinya tidak setingkat), dan sejenisnya. Judul sub-sub-sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf tebal (italic-bold atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).
  3. Batas tepi (margin):
    • Tepi atas : 4 cm
    • Tepi bawah : 3 cm
    • Tepi kiri : 4 cm
    • Tepi kanan : 3 cm
  1. Sela ketukan (indensi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
  2. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:

a. Bagian awal dari karya ilmiah termasuk di dalamnya adalah halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:

1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal (lihat Lampiran)

2) Riwayat Hidup dan Kata Pengantar ditulis dengan spasi ganda

3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).

4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran disusun dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).

b. Bagian isi karya ilmiah meliputi Bab I sampai BAB V, disusun dengan menggunakan spasi ganda.

c. Bagian akhir karya ilmiah terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal dan indensi gantung (jarak antar referensi dengan spasi ganda), dan Lampiran yang ditulis dengan
spasi tunggal atau disesuaikan dengan bentuk/jenis lampiran.

  1. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:
    1. a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan huruf besar/kapital, dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku umum seperti PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri tanda titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan Seminar dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal)
    2. b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
    3. c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya.
      Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case)
      kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
    4. d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebal- miring (bold-italic)
    5. e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab dimulai dengan
      huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata dimulai
      dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub sub- sub-sub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic)
    6. f. Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-bab, dan seterusnya (headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings hierarchy dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya (lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru dibuat dengan indensi 1 cm). Sementara penulisan points/items hierarchy tidak sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri), melainkan mengikuti poin-poin/item-item dimaksud atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan estetika. Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c).
    7. g. Penulisan headings hierarchy (sub-judul) – sejajar batas tepi kiri:
  1. h. Penulisan points/items hierarchy (rincian poin-poin/item-item) – tidak
    sejajar dengan batas tepi kiri (masuk ke dalam, disesuaikan):

Catatan: Poin/Item dan sub-subnya ditulis dengan huruf biasa, kecuali untuk pemberian tekanan, istilah asing, dsb.
g. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan
keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy) dalam sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.

h. Sepanjang memungkinkan, hindari penggunaan hirarkhi sub-judul (headings hierarchy) yang terlalu banyak tingkatannya (sub sub-sub- sub-bab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy).

  1. Bilangan dan satuan:
    a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja. Contoh:
    Umur mesin 10 tahun.
    Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya. 

    b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)

    c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)

    d. Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan
    pecahan yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulis dengan huruf/dieja. Contoh: tiga dua pertiga.

C. Penomoran Halaman

Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halaman-
halaman awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya, adalah sebagai berikut:

  1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan di tengah bagian bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap dihitung.
  2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru yang tidak diisi nomor halaman.
  3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang disajikan menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:

Lampiran 1. Pedoman Wawancara
Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru

D. Tabel dan Gambar

Pembuatan dan penomoran Tabel dan Gambar mengikuti ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
1. Tabel

a. Tabel dalam bagian isi karya ilmiah berisi ringkasan data-data
penelitian yang penting. Data l engkapnya dapat disajikan pada
Lampiran.

b. Tabel disajikan di tengah, simetris/sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan.

c. Kolom-kolom disusun dengan rapi sehingga mudah dibaca.

d. Jarak antara baris dalam tabel adalah satu spasi.

e. Garis batas tabel tidak melampaui batas tepi kertas.

f. Kolom tabel diletakkan sejajar dengan panjang kertas.

g. Tabel boleh diletakkan di tengah halaman di antara baris-baris teks. Dalam hal ini jarak tabel dan kalimat di bawahnya adalah dua spasi.

h. Di atas garis batas tabel dituliskan nomor dan judul tabel, dengan ketentuan:

1) Jika judul tabel terdiri dari dua baris atau lebih, maka spasi
yang digunakan adalah satu spasi. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas garis batas atas tabel.

2) Nomor tabel terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor tabel terdiri dari dua bagian, bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat tabel itu dimuat, dan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh: Tabel 2.5 menunjukkan bahwa tabel itu ada di BAB II dan tabel urutan kelima pada bab itu.

i. Tabel yang memerlukan kertas yang l ebih besar dari halaman naskah dapat diizinkan, tetapi sebaiknya hanya tabel yang jika dilipat satu kali sudah mencapai ukuran halaman naskah yang dimasukkan dalam teks.

j. Dalam setiap tabel tentang data, di bawah tabel tersebut harus dicantumkan sumbernya dengan ukuran huruf (font) 10 dengan
spasi tunggal (lihat Lampiran).

2. Gambar

a. Yang dimaksud dengan gambar adalah bagan, grafik, peta, diagram, atau foto.

b. Garis batas gambar diletakkan sedemikian rupa sehingga garis batas tersebut tidak melampaui batas tepi kertas.

c. Untuk gambar besar, ukurannya diatur agar sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan; sedangkan untuk gambar kecil yang
tampilannya menjadi kurang bagus kalau diperbesar, atur ukuran dan
posisinya agar simetris dengan batas tepi halaman (tidak sejajar, tapi jarak ke tepi kiri dan kanan sama).

d. Di atas gambar disajikan nomor dan judul gambar, dengan ketentuan:

1) Jika judul gambar terdiri dari dua baris atau lebih, spasi yang digunakan adalah spasi tunggal. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas gambar.

2) Nomor gambar terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor gambar terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat gambar itu dimuat, sedangkan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh: Gambar 2.1 menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar urutan pertama pada Bab II.

e. Gambar yang memerlukan halaman yang lebih besar dari halaman naskah disajikan sebagai lampiran.

f. Jika ada keterangan gambar, keterangan tersebut ditulis pada tempat
kosong di bawah gambar (tidak diletakkan di halaman lain).

g. Contoh penyajian gambar bisa dilihat dalam Lampiran.

arifyanto1.wordpress.com

RUMAHKU SURGAKU (PIDATO/KULTUM BAHASA INDONESIA)

RUMAHKU SURGAKU

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, wash sholatu wassalamu ‘ala asrofil anbiyaa i wal mursalin, sayyidina wa habibina wa syafi’ina wa maulana muhammadin wa’ala alihi washohbihi ajma’in, la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘dzim

Al mukarom para Alim Ulim Ulama para Kyai para Ustadz dan Ustadzah yg kami hormati

Khususnya Abah Dr. KH. M. Komari Syaifulloh MA.

Dan bapak-bapak pejabat pemerintah yang hadir, yg kami hormati bapak-bapak pejabat muspika kecamatan, khususnya bapak Kepala Desa yg kami hormati,

Serta hadirin hadirot rokhimakumullah.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yg telah memberikan nikmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita semua sehingga bisa berkumpul disini dalam keadaan sehat wal’afiat, marilah kita bersama-sama mengucapkan ALHAMDULILLAH.

Kedua kalinya sholawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Nabi akhiruzzaman, nabi pemimpin umat yang menyelamatkan manusia dari zaman jahiliyah yang gelap gulita menuju zaman islamiyah yg terang benderang dan semoga kita semua mendapatkan syafa’at beliau kelak diyaumul qiyamah, AMIN ALLAHUMMA AMIN………….

 

Ketiga kalinya pada kesempatan hari ini saya akan mengambil judul Rumahku Surgaku. Materi ini kami tujukan khushusnya kepada kedua mempelai ………. & ……….

Sesuai dengan firman Allah surat Ar-Rum: 21

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYA, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-NYA diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

 

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Ayat ini mengandung maksud bahwa tujuan orang berumah tangga adalah hidup bahagia sampai alam akhirat, betul.????…… nopo setiap rumah niku rumah tangganipun bahagia??? Ternyata…… tidak semua orang berumah tangga hidupnya bahagia. Adakalanya nikah baru seminggu cerai, ada yang menikah nikah baru satu bulan pegatan, ada yang nikah sudah satu tahun berantakan, betul…??? bahkan ada yang sudah 10 tahun malah ambur adul padahal cita-citanya adalah rumahku surgaku/ rumah tangga bahagia.

Oh.. sungguh bahagia, hidup bersama keluarga

Penuh kasih sayang mesra, rukun damai sejahtera

Rumahku itulah surgaku di dunia, oh.. sungguh bahagia

“Baiti Jannati”

 

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Setiap orang menikah pasti bercita-cita rumah tangga bahagia, nggih nopo boten??? Maka dari itu saya punya resep supaya rumah tangga bahagia. Resep pertama “didasari rasa cinta”. Orang jawa mengatakan “Tir podo irenge, Sir podo senenge, Ora kentir podo gendhenge, betul.??? Dasarnya CINTA

 

Gegaraning wong ngakrami

Udu brana dudu warna

Nanging ati paritane

Luput pisan keno pisah

Yen gampang luwih gampang

Yen angel-angel kalangkung tan keno tinumbas arto

 

 

Milih jodo kang mas sing ati-ati

Salah sepisan bakal getun tembe buri

Milih jodo mbak yu sing ati-ati

Salah sepisan getune tembe buri

 

SHOLAWAT

Milih jodo ojo mergo rupane

Milih jodo ojo mergo bondone

Milih jodo ojo mergo pangkate

Ammiliho sing kuat agamane

 

Jadi rumah tangga bahagia harus didasari rasa cinta. Coba dilihat mas…. nyawang mbak…. tersenyum. Mbak …nyawang mas….juga tersenyum. Mas….. sampean kulo takoni, waktu sampean nglamar mbak… nopo ngancem??

Pasti keduanya atas dasar cinta

 

Cintaku kepadamu tak akan pernah layu

Bagaikan bunag surga yang mekar selamanya

 

Dasar cinta jangan waktu pengantin baru saja. Kemana-mana bersama, sampai keliling desa terpeleset kulit pisang srreeett…. oh sayangku kau jatuh. Waniat itu lembut….. butuh kasih sayang, hati-hati kalau putus asa bisa nekad.

Saya berpesan kepada mas….& mbak….. supaya menjaga cinta, nggih…… wanita yang baik kalau dipandang selalu senyum, suami pulang kerja disapa dengan baik, gimana mas kabarnya….???  jangan duit yang ditanyakan. Maka dari itu jadi seorang istri yang baik harus nerimo dibelanja sedikit banyak / sedikitpun tidfak dibelanja yang penting bapak pulang dengan selamat’ itulah rumah tangga bahagia.(                          )

Hadirin hadirot rohimakumulloh

Itulah resep cinta “Tir podo irenge, Sir podo senenge, Ora kentir podo gendhenge, betul.??? Dasarnya CINTA.

Mungkin dari saya cukup sekian, apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati anda semuanya, saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Akhirul kalam

Wassalamualaikum Wr. Wb.

PRANATA HADICARA (BAHASA JAWA)

PRANOTO HADICORO

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mukodimah

 

Wonten ing ngarsanipun poro Kyai, poro Ulama ingkang tansah sumanding kitab suci ingkang tuhu kinabekten panjenenganipun Romo KH…………. ingkang tuhu kinabekten poro pangembating projo ingkang tuhu kinormatan kushusipun panjenenganipun Bopo Camat ugi Bopo Lurah ingkang kinormatan saguning poro tamu ugi poro rawuh sedayanipun ingkang minulyo.

Temanten sarimbit panjenenganipun kang Mas Bagus………. kaleh panjenenganipun Roronimas Ayu…….. inkang nembe bahagio mulyo.monggo kito sareng memuji syukur wonten ngersanipun Gusti Allah ingkang moho welas tur asih dene menopo kito saget pinanggih kanti wilujeng kales ler ing sambikolo kanti ucapan ALHAMDULILLAH, mugi-mugi kito sedoyo tansah pikantuk rahmat, nikmat, taufik, hidayah ugi inayah saking ngarso dalem gusti Allah ingkang moho kuoso.

Selajengipun sholawat ugi salam mugio tetep katur wonten ing ngarso dalem gusti kito kanjeng Nabi Muhammad SAW.Nabi panutan umat Nabi Akhiruzzaman ugi mugi-mugi kito sedoyo sageto pikantuk syafa’atipun wonten ing dinten kiamat mangke AMIN ALLAHUMMA AMIN.

Ing mriki kawulo ingkang tinanggenang dados pranoto hadicoro wonten toto laksono hadicoro mangayu bagyo dawupipun Nini temanten ugi Kaki temanten sarrimbit badhe ngaturaken reroncengen toto laksono hadicoro inkang bade kalampahan wonten ing saat puniko.

Hadicoro ingkang ongko SETUNGGAL : Ingih meniko PAMBUKO.

Kalajengaken totolaksono hadicoro ingkang ongko KALEH : Inggih meniko ungeleng waosan AYAT-AYAT SUCI AL-QUR’AN ingkang bade dipun sarirani deneng Sederek Ust…………

Dene toto laksono hadicoro ingkang kaping TIGO : Inggih meniko ATUR PASRAH saking keluarga Temanten Kakung.

Kalejengaken totolaksono hadicoro SELAJENGIPUN inggih meniko ATUR PANAMPI Keluarga Putri.

Dene totolaksono hadicoro ingkang kaping SEKAWAN : Inggih meniko ULAR-ULAR TEMANTEN inkang bade diparingaken dene Romo KH……..Saking……….

Dene totolaksono hadicoro ingkang PUNGKASAN : Inggih meniko DO’A PENUTUP.

Mekaten kulo wau reroncengan totolaksono hadicoro ingkang bade kalampahan wonten ing saat puniko,monggo kito awiti totolaksono hadicoro ingkang ongko SEPINDAH inggih meniko PAMBUKO monggo sareng-sareng kito bikak kanti waosan SUROTUL FATIHAH mugi-mugi totolaksono ingkang bade kalampahan sageto mlampah kanti wilujeng kates ing sambikolo AL-FATIHAH…….AMIN…

Kalajengaken totolaksono hadicoro inkang ongko KALEH : Inggih meniko unggeling AYAT-AYAT SUCI AL-QUR’AN ingkang bade kaaturaken deneng SEDEREK……..wekdal soho papan kawulo kulo aturaken sumonggo.

(Bilih sampun cekap kawulo aturaken maturnuwun ing sedayanipun)

Dene totolaksono hadicoro ingkang sak CANDAK IPUN Inggih meniko ATUR PASRAH Keluarga temanten KAKUNG ingkang bade dipun sarerani panjenenganipun Bapak…….. (Bilih sampun rampung kawulo aturaken ing sedoyonipun).

Atur panampi saking keluarga PUTRI ingkang deneng sarirani deneng Bopo……… (Medal soho papan kulo semangga aken monggo) poro palenggah sedayanipun ingkang kinormatan titi lancinipun totolaksono hadicoro ingkang kito tenggo-tenggo inggih meniko ULAR-ULAR MANTEN ingkang bade dipun parengaken deneng Kyai……..Saking……. wonten ing ngarsanipun Romo Kyai (Wedal soho papan kulo semangga aken monggo) sak cekapipun kasuwun ugi barokah dungonipun.

Bilih cekap mekaten kulo wau ular-ular wonten ingkang sampun diparengaken panjenenganipun kaleh KH………… mugi-mugi manfaat bagi kito sedoyo,khususipun temanten Sarimbit ingkang bade wujudaken rumah tangga sakinah,mawadah,warohmah mugi-mugi sageto wujud kanti ridhonipun gusti inkang murbaeng dumade inggih meniko Allah SWT. ALLAHUMMA AMIN.

Ing mriki kawulo ingkang tinanggenah dados pranoto hadicoro wonten ing totolaksono hadicoro mangayu bgyo daupipun Nini Temanten ugi Kiki Temanten Sarimbit bok bilih wonten sedoyo kelepatan kawulo nyuwun nguning pangarsaning ugi minongko saking wakil keluarga monggo dedaharan ugi unju’an ingkang sampun kechaosaken,monggo dipun rahapi kanti mardikaneng manah tuwin monggo kito akhiri hadicoro meniko kanti waosan ALHAMDULILLAH.

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

MC PENGAJIAN UMUM BAHASA INDONESIA


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Al-Mukarom para alim ulama’,para kyai,para ustadz dan ustadzah yang kami hormati khususnya ………………………

Pejabat pemerintah baik sipil maupun militer yang kami hormati.

Hadirin hadirot rohimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang telah membari rahmat, nikmat, taufik, hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga kita bisa bertemu dalam keadaan sehat wal afiat. Mari kita bersama-sama mengucapkan ALHAMDULILLAH.

Kedua kalinya sholawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepda junjungan kita Nabi besar MUHAMMAD SAW nabi akhiruz zaman.Nabi pemimpin umat yang manyelamatkan manusia dari zaman jahiliyah yang gelap gulita zaman yang tidak kenal peri kemanusiaan menuju zaman islamiyah yang terang benderang yang cinta kasih terhadap sesama.Semoga kita semua bisa meneruskan perjuangan beliau dan mendapat syafa’at diakhir kiamat nanti ALLAHUMMA AMIN…………..

Ketiga kalinya disini kami sebagai pembawa acara akan membacakan susunan acara yang akan berlangsung pada saat ini.

Acara pertama pembukaan.

Disusul acara yang kedua pembacaan ayat-ayat suci  Al-Qur’an.

Adapun acara yang ketiga pembacaan sholawat nabi yang akan dipimpin oleh saudara/i……………..

Dilanjutkan acara yang keempat sambutan-sambutan.

Sambutan pertama akan disampaikan oleh ketua panitia,kepada saudara ………………waktu dan tempat dihaturkan.

Adapun sambutan yang kedua akan disampaikan oleh Bapak Kepala Desa.

Sambutan yang ketiga akan disampaikan oleh Bapak Camat.

Acara selanjutnya adalah acara yang dinanti-nanti untuk pengajian akbar dalam rangka……………………yang akan dasampaikan oleh K.H………………. dari………………..dan diakhiri dengan do’a.

Hadirin yang berbahagia demikianlah susunan pada saat ini.Untuk maepersingkat waktu marilah kita buka acara ini dengan bacaan surotul Fatihah mudah-mudahan acara ini dapat berlangsung dengan lancar Al-Fatih.

Mari kita lanjutkan acara yang kedua penbacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang akan disampaikan oleh saudara/i ……………….kepada beliau waktu dihaturkan. Demikianlah pembacaan ayat-ayat  suci Al-Quran yang telah disampaikan ustadz………….semoga kita semuanya senantiasa mendapatkan hidayah dari ALLAH SWT Allahumma amin.

Selanjutnya marilah kita bersama-sama membaca sholawat nabi dalam hal ini akan dipimpin oleh ………….kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.

Menginjak acara selanjutnya sambutan-sambutan,sambutan pertama yang akan disampaikan oleh ketua penyelenggara peringatan ………………..yang akan disampaikan oleh bapak……………….kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.         Kepada beliau diucapkan terima kasih.

Menginjak sambutan yang kedua bapak Kepala Desa …………………kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.Kepada beliau diucapkan terima kasih.                 Adapun sambutan yang terakhir yang akan disampaikan oleh Bpak Camat……………maka kepada beliau waktu dan tempat dihaturkan.Kepada beliau diucapkan terima kasih.                                                                                                                                        Hadirin yang berbahagia tibalah saatnya waktu yang kita nanti-nantikan yaitu ceramah agama yang akan disampaikan oleh da’i sejuta umat yaitu Bapak ………………dari……………………..Kepada beliau kami haturkan dan kami mohon ditutup dengan do’a.

Demikianlah pengajian akbar yang telah disampaikan olah Bapak KH……………….,mudah-mudahan kita semuanya bisa mengamalkan apa yang disampaikan oleh beliau

Dengan demikian selesailah sudah rangkaian acara yang telah berlangsung pada saat ini.Kami sebagai pembawa acara apabila ada kesalahan untuk hal0hal yang tidak berkenan didalam menghantarkan acara pada saat ini kami sebagai MC mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Marilah acara saat ini kita tutup dengan bacaan Hamdallah bersama-sama.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ILMU DAN METODOLOGI DAKWAH

ILMU DAKWAH Disusun oleh ARIF YANTO

Pengertian dakwah bagi kalangan awam disalah artikan dengan pengertian yang sempit terbatas pada ceramah, khutbah atau pengajian saja, padahal pengertian dakwah sangat luas.

Berikut sedikit penjelasan mengenai dakwah dan kajiannya.

a. Pengertian Dakwah

Dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 10 macam yaitu:1. Mengajak dan menyeru, 2. Berdo’a, 3. Mendakwa (red. Menuduh), 4. Mengadu, 5. Memanggil, 6. Meminta, 7. Mengundang, 8. Malaikat Israfil, 9. Gelar, 10. Anak angkat.

Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu. Definisi dakwah dari literature yang ditulis oleh pakar-pakar dakwah antara lain adalah:

Dakwah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6)

Dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).

Merubah suatu situasi ke situasi yang lebih baik sesuai ajaran Islam (Muhammad Al Bahiy).

Memotivasi manusia untuk berbuat kebaikan dan petunjuk, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar, untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat (Aly Mahfudz).

 

KESIMPULAN :

Dakwah secara bahasa berarti ajakan, seruan, undangan dan panggilan. Sedangkan secara istilah berarti menyeru untuk mengikuti sesuatu dengan cara dan tujuan tertentu.

Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda.

Dimensi Dakwah:

1. Dakwah bi ahsan Al-Qawl (Kerisalahan)

a) Irsyad (internalisasi dan transmisi)

b) Tabligh (transmisi dan difusi)

2. Dakwah bi ahsan Al-Amal (Kerahmatan)

a) Tadbir Islam (institusionalisasi = pengorganisasian)

b) Tathwir/Tamkin Islam (transformasi = pemberdayaan dan pengembangan)

 

DAFTAR PUSTAKA Kusnawan, Aep, M.Ag, dkk. 2009. Dimensi Ilmu Dakwah. Bandung: Widya Padjadjaran.

KETERAMPILAN BERBICARA

I. Kemampuan Dasar dalam Kegiatan
Berbicara
A. Berdialog
Berdialog dapat diartikan sebagai pertukaran
pikiran atau pendapat mengenai sutu topik
tertentu antara 2 orang atau lebih. Fungsi
utama berdialog adalah bertukar pikiran,
mencapai mufakat atau merundingkan
sesuatu masalah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
berdialog adalah :
1) Bagaimana menarik perhatian
2) Bagaimana cara mulai dan memprakarsai
suatu percakapan
3) Bagaimana menyela, mengoreksi,
memperbaiki, dan mencari kejelasan
4) Bagaimana mengakhiri suatu percakapan
B. Menyampaikan Pengumuman
Menyampaikan pengumuman berarti
menyampaikan sesuatu hal yang perlu
diketahui oleh khalayak ramai. Kegiatan ini
dapat diwujudkan dalam bentuk pidato. Ciri-
ciri yang harus diperhatikan dalam membaca
pengumuman di antaranya , yaitu volume
suara harus lebih keras, intonasi yang tepat,
dan gaya penampilan yang menarik.
C. Menyampaikan Argumentasi
Salah satu proses komunikasi untuk
menyampaikan argumentasi karena harus
mempertahankan pendapat, yaitu debat.
Setiap pihak yang berdebat akan mengajukan
argumentasi dengan memberikan alasan
tertentu agar pihak lawan atau peserta
menjadi yakin dan berpihak serta setuju
terhadap pendapat-pendapatnya (Laksono,
2003:20).
D. Bercerita
Manfaat bercerita di antaranya, yaitu (1)
memberikan hiburan, (2) mengajarkan
kebenaran, dan (3) memberikan keteladanan.
Seorang pendongeng dapat berhasil dengan
baik apabila ia dapat menghidupkan cerita.
Artinya, dalam hal ini pendongeng harus
dapat membangkitkan daya imajinasi anak.
Untuk itu, biasanya pendongeng
mempersiapkan diri dengan cara : (1)
memahami pendengar, (2) menguasai materi
cerita, (3) menguasai olah suara, (4)
menguasai berbagai macam karakter, (5)
luwes dalam berolah tubuh, dan (6) menjaga
daya tahan tubuh.
Selain itu, terdapat enam jurus mendongeng,
yaitu : (1) menciptakan suasana akrab, (2)
menghidupkan cerita dengan cara memiliki
kemampuan teknik membuka cerita,
menciptakan susana dramatik, menutup yang
membuat penasaran, (3) kreatif, (4) tanggap
dengan situasi dan kondisi, (5) konsentrasi
total, dan (6) ikhlas.
Nadeak (1987) mengemukakan 18 hal yang
berkaitan dengan bercerita, yaitu : (1) memilih
cerita yang tepat, (2) mengetahui cerita, (3)
merasakan cerita, (4) menguasai kerangka
cerita, (5) menyelaraskan cerita, (6) pemilihan
pokok cerita yang tepat, (7) menyelaraskan
dan menyarikan cerita, ( menyelaraskan
dan memperluas, (9) menyederhanakan
cerita, (10) menceritakan cerita secara
langsung, (11) bercerita dengan tubuh yang
alami, (12) menentukan tujuan, (13)
mengenali tujuan dan klimaks, (14)
memfungsikan kata dan percakapan dalam
cerita, (15) melukiskan kejadian, (16)
menetapkan sudut pandang, (17)
menciptakan suasana dan gerak, (1
merangkai adegan.
II. Kemampuan Lanjutan dalam Kegiatan
Berbicara
A. Musyawarah
Musyawarah mengandung arti perundingan,
yaitu membicarakan sesuatu supaya
mencapai kata sepakat. Dalam suatu
musyawarah yang penting adalah
kepentingan orang banyak, setiap orang
mengesampingkan kepentingan pribadi demi
kepentingan umum.
Dalam musyawarah biasanya terdapat
perbedaan pendapat, tetapi perbedaan itu
harus dipadukan. Bila tidak, maka biasa
diambil voting (suara terbanyak). Itulah hal
yang istimewa dari musyawarah yang
berbeda dengan diskusi. Dalam musyawarah
selalu ada kesimpulan.
B. Diskusi
Nio (dalam Haryadi, 1981:6 menjelaskan
bahwa diskusi ialah proses pelibatan dua
orang atau lebih individu yang berinteraksi
secara verbal dan tatap muka, tukar-menukar
informasi untuk memecahkan masalah.
Sementara itu, Brilhart (dalam Haryadi, 1997:6
menjelaskan diskusi adalah bentuk tukar
pikiran secara teratur dan terarah dalam
kelompok besar atau kelompok kecil dengan
tujuan untuk diskusi ialah proses pengertian,
kesepakatan, dan keputusan bersama
mengenai suatu masalah. Dari kedua batasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi
diskusi adalah :
1. partisipan lebih dari seorang
2. dilaksanakan dengan bertatap muka
3. menggunakan bahasa lisan
4. bertujuan untuk mendapatkan kesempatan
bersama
5. dilakukan dengan cara bertukar informasi
dan tanya jawab
Ketika menyampaikan sanggahan, hendaklah
disampaikan secara santun, yaitu dengan
cara :
1. pertanyaan dan sanggahan diajukan
dengan jelas dan tidak berbelit-belit,
2. pertanyaan dan sanggahan diajukan
secara santun, menghindari pertanyaan,
permintaan, dan perintah langsung,
3. diusahakan agar pertanyaan dan
sanggahan tidak ditafsirkan sebagai bantahan
atau debat.
Sementara itu, dalam memberikan tanggapan
pun harus dipenuhi 4 hal, yaitu :
1. jawaban atau tanggapan harus
berhubungan dengan pertanyaan,
2. jawaban harus objektif dan memuaskan
berbagai pihak,
3. prasangka dan emosi harus dihindarkan,
4. bersikap jujur dan terus terang apabila
tidak bisa menjawab.
C. Pidato
Sebelum melakukan pidato, hal yang perlu
diperhatikan adalah analisis terhadap :
1. Jumlah pendengar
2. Tujuan mereka berkumpul
3. Adat kebiasaan mereka
4. Acara lain
5. Tempat berpidato
6. Usia pendengar
7. Tingkat pendidikan pendengar
8. Keterkaitan hubungan batin dengan
pendengar
9. Bahasa yang biasa digunakan
Pedoman untuk membuka pidato yang baik
adalah :
1. Langsung menyebutkan pokok persoalan
2. Melukiskan latar belakang masalah
3. Menghubungkan dengan peristiwa
mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi
pusat perhatian khalayak.
4. Menghubungkan dengan peristiwa yang
sedang diperingati
5. Menghubungkan dengan tempat
komunikator berpidato
6. Menghubungkan dengan suasana emosi
yang tengah meliputi khalayak
7. Menghubungkan dengan kejadian sejarah
yang terjadi masa lalu
8. Menghubungkan dengan kepentingan vital
pendengar
9. Memberikan pujian kepada khalayak atas
prestasi mereka
10. Memulai dengan pertanyaan yang
mengejutkan
11. Mengajukan pertanyaan provokatif atau
serentetan pertanyaan
12. Menyatakan kutipan
13. Menceritakan pengalaman pribadi
14. Mengisahkan cerita faktual, fiktif atau
situasi hipotesis
15. Menyatakan teori atau prinsip-prinsip
yang diakui kebenarannya
16. Membuat humor.
Adapun cara menutup pidato adalah :
1. Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar
pembicaraan
2. Menyatakan kembali gagasan utama
dengan kalimat dan kata yang berbeda
3. Mendorong khalayak untuk bertindak
4. Mengakhiri dengan klimaks
5. Menyatakan kutipan Alquran, sajak,
peribahasa atau ucapan para ahli
6. Menceritakan tokoh yang berupa ilustrasi
dari tema pembicaraan
7. Menerangkan maksud sebenarnya pribadi
pembicara
8. Menguji dan menghargai khalayak, dan
membuat pernyataan yang humoris atau
anekdot lucu.

KETERAMPILAN BERBICARA

KETERAMPILAN BERBICARA
I. Kemampuan Dasar dalam Kegiatan
Berbicara
A. Berdialog
Berdialog dapat diartikan sebagai pertukaran
pikiran atau pendapat mengenai sutu topik
tertentu antara 2 orang atau lebih. Fungsi
utama berdialog adalah bertukar pikiran,
mencapai mufakat atau merundingkan
sesuatu masalah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
berdialog adalah :
1) Bagaimana menarik perhatian
2) Bagaimana cara mulai dan memprakarsai
suatu percakapan
3) Bagaimana menyela, mengoreksi,
memperbaiki, dan mencari kejelasan
4) Bagaimana mengakhiri suatu percakapan
B. Menyampaikan Pengumuman
Menyampaikan pengumuman berarti
menyampaikan sesuatu hal yang perlu
diketahui oleh khalayak ramai. Kegiatan ini
dapat diwujudkan dalam bentuk pidato. Ciri-
ciri yang harus diperhatikan dalam membaca
pengumuman di antaranya , yaitu volume
suara harus lebih keras, intonasi yang tepat,
dan gaya penampilan yang menarik.
C. Menyampaikan Argumentasi
Salah satu proses komunikasi untuk
menyampaikan argumentasi karena harus
mempertahankan pendapat, yaitu debat.
Setiap pihak yang berdebat akan mengajukan
argumentasi dengan memberikan alasan
tertentu agar pihak lawan atau peserta
menjadi yakin dan berpihak serta setuju
terhadap pendapat-pendapatnya (Laksono,
2003:20).
D. Bercerita
Manfaat bercerita di antaranya, yaitu (1)
memberikan hiburan, (2) mengajarkan
kebenaran, dan (3) memberikan keteladanan.
Seorang pendongeng dapat berhasil dengan
baik apabila ia dapat menghidupkan cerita.
Artinya, dalam hal ini pendongeng harus
dapat membangkitkan daya imajinasi anak.
Untuk itu, biasanya pendongeng
mempersiapkan diri dengan cara : (1)
memahami pendengar, (2) menguasai materi
cerita, (3) menguasai olah suara, (4)
menguasai berbagai macam karakter, (5)
luwes dalam berolah tubuh, dan (6) menjaga
daya tahan tubuh.
Selain itu, terdapat enam jurus mendongeng,
yaitu : (1) menciptakan suasana akrab, (2)
menghidupkan cerita dengan cara memiliki
kemampuan teknik membuka cerita,
menciptakan susana dramatik, menutup yang
membuat penasaran, (3) kreatif, (4) tanggap
dengan situasi dan kondisi, (5) konsentrasi
total, dan (6) ikhlas.
Nadeak (1987) mengemukakan 18 hal yang
berkaitan dengan bercerita, yaitu : (1) memilih
cerita yang tepat, (2) mengetahui cerita, (3)
merasakan cerita, (4) menguasai kerangka
cerita, (5) menyelaraskan cerita, (6) pemilihan
pokok cerita yang tepat, (7) menyelaraskan
dan menyarikan cerita, ( menyelaraskan
dan memperluas, (9) menyederhanakan
cerita, (10) menceritakan cerita secara
langsung, (11) bercerita dengan tubuh yang
alami, (12) menentukan tujuan, (13)
mengenali tujuan dan klimaks, (14)
memfungsikan kata dan percakapan dalam
cerita, (15) melukiskan kejadian, (16)
menetapkan sudut pandang, (17)
menciptakan suasana dan gerak, (1
merangkai adegan.
II. Kemampuan Lanjutan dalam Kegiatan
Berbicara
A. Musyawarah
Musyawarah mengandung arti perundingan,
yaitu membicarakan sesuatu supaya
mencapai kata sepakat. Dalam suatu
musyawarah yang penting adalah
kepentingan orang banyak, setiap orang
mengesampingkan kepentingan pribadi demi
kepentingan umum.
Dalam musyawarah biasanya terdapat
perbedaan pendapat, tetapi perbedaan itu
harus dipadukan. Bila tidak, maka biasa
diambil voting (suara terbanyak). Itulah hal
yang istimewa dari musyawarah yang
berbeda dengan diskusi. Dalam musyawarah
selalu ada kesimpulan.
B. Diskusi
Nio (dalam Haryadi, 1981:6 menjelaskan
bahwa diskusi ialah proses pelibatan dua
orang atau lebih individu yang berinteraksi
secara verbal dan tatap muka, tukar-menukar
informasi untuk memecahkan masalah.
Sementara itu, Brilhart (dalam Haryadi, 1997:6
menjelaskan diskusi adalah bentuk tukar
pikiran secara teratur dan terarah dalam
kelompok besar atau kelompok kecil dengan
tujuan untuk diskusi ialah proses pengertian,
kesepakatan, dan keputusan bersama
mengenai suatu masalah. Dari kedua batasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi
diskusi adalah :
1. partisipan lebih dari seorang
2. dilaksanakan dengan bertatap muka
3. menggunakan bahasa lisan
4. bertujuan untuk mendapatkan kesempatan
bersama
5. dilakukan dengan cara bertukar informasi
dan tanya jawab
Ketika menyampaikan sanggahan, hendaklah
disampaikan secara santun, yaitu dengan
cara :
1. pertanyaan dan sanggahan diajukan
dengan jelas dan tidak berbelit-belit,
2. pertanyaan dan sanggahan diajukan
secara santun, menghindari pertanyaan,
permintaan, dan perintah langsung,
3. diusahakan agar pertanyaan dan
sanggahan tidak ditafsirkan sebagai bantahan
atau debat.
Sementara itu, dalam memberikan tanggapan
pun harus dipenuhi 4 hal, yaitu :
1. jawaban atau tanggapan harus
berhubungan dengan pertanyaan,
2. jawaban harus objektif dan memuaskan
berbagai pihak,
3. prasangka dan emosi harus dihindarkan,
4. bersikap jujur dan terus terang apabila
tidak bisa menjawab.
C. Pidato
Sebelum melakukan pidato, hal yang perlu
diperhatikan adalah analisis terhadap :
1. Jumlah pendengar
2. Tujuan mereka berkumpul
3. Adat kebiasaan mereka
4. Acara lain
5. Tempat berpidato
6. Usia pendengar
7. Tingkat pendidikan pendengar
8. Keterkaitan hubungan batin dengan
pendengar
9. Bahasa yang biasa digunakan
Pedoman untuk membuka pidato yang baik
adalah :
1. Langsung menyebutkan pokok persoalan
2. Melukiskan latar belakang masalah
3. Menghubungkan dengan peristiwa
mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi
pusat perhatian khalayak.
4. Menghubungkan dengan peristiwa yang
sedang diperingati
5. Menghubungkan dengan tempat
komunikator berpidato
6. Menghubungkan dengan suasana emosi
yang tengah meliputi khalayak
7. Menghubungkan dengan kejadian sejarah
yang terjadi masa lalu
8. Menghubungkan dengan kepentingan vital
pendengar
9. Memberikan pujian kepada khalayak atas
prestasi mereka
10. Memulai dengan pertanyaan yang
mengejutkan
11. Mengajukan pertanyaan provokatif atau
serentetan pertanyaan
12. Menyatakan kutipan
13. Menceritakan pengalaman pribadi
14. Mengisahkan cerita faktual, fiktif atau
situasi hipotesis
15. Menyatakan teori atau prinsip-prinsip
yang diakui kebenarannya
16. Membuat humor.
Adapun cara menutup pidato adalah :
1. Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar
pembicaraan
2. Menyatakan kembali gagasan utama
dengan kalimat dan kata yang berbeda
3. Mendorong khalayak untuk bertindak
4. Mengakhiri dengan klimaks
5. Menyatakan kutipan Alquran, sajak,
peribahasa atau ucapan para ahli
6. Menceritakan tokoh yang berupa ilustrasi
dari tema pembicaraan
7. Menerangkan maksud sebenarnya pribadi
pembicara
8. Menguji dan menghargai khalayak, dan
membuat pernyataan yang humoris atau
anekdot lucu.

DASAR-DASAR PUBLIC SPEAKING

PUBLIC Speaking (PS) dimaknai sebagai
berbicara di depan umum, utamanya ceramah
atau pidato. Secara luas, PS mencakup semua
aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan
orang banyak, termasuk dalam rapat,
membawakan acara (jadi MC), presentasi,
diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.
Presenter TV dan penyair radio termasuk
melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience
yang banyak (publik), meskipun tidak face to
face.
Proses PS meliputi tiga tahap : persiapan dan
penyampaian. Pada tahap penyampaian juga
terbagi tiga, yakni opening, pembahasan, dan
penutupan.
PERSIAPAN
Persiapan PS meliputi persiapan MENTAL,
FISIK, dan MATERI.
Persiapan mental meliputi a.l. rileks, kenali
ruangan, kenali audience, dan kuasai materi.
Persiapan Fisik a.l. memastikan kondisi badan
dan suara fit; wardrobe, tidak memakan keju,
mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi,
sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil;
lancarkan aliran darah misal dengan menjabat
tangan sendiri; serta menjaga agar mulut/
tenggorokan tetap basah.
Persiapan Materi a.l. membaca literatur dan
menyusun pointer atau outline. Teknis
penyampaian materi ada empat pilihan:
membaca naskah (Reading from complete text),
menggunakan catatan (Using notes), hapalan
(memory), dan menggunakan alat bantu visual
sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).
PEMBUKAAN
Awali pembicaraan dengan nada rendah dan
lambat (Start Low and Slow), jangan mengakui
ketidaksiapan atau keterpaksaan dengan
apologi (Don ’t apologize).
Teknik membuka PS a.l. langsung menyebut
pokok persoalan yang akan dibicarakan;
mengajukan pertanyaan provokatif,
menyatakan kutipan — teori, ungkapan,
peristiwa, atau pepatah.
PENYAMPAIAN
Teknik pemaparan materi a.l. deduktif, induktif,
dan kronologis. Selama pembicaraan,
perhatikan power suara agar tetap audible,
jelas, dinamis, dan sebaiknya gunakan action
and colourful words.
PENUTUP
Jika materi pembicaraan sudah disampaikan
atau waktu sudah habis, langsung tutup, lalu
ucapkan salam. Teknik penutup a.l.
menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan
utama dengan kalimat berbeda, mendorong
audience untuk bertindak (Appeal for Action),
kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau
ucapan ahli, memuji khalayak, dll.
ELEMEN PUBLIC SPEAKING
Elemen PS meliputi (1) Teknik Vokal –intonasi/
nada bicara, aksentuasi/stressing pada kata-
kata tertentu yang dianggap penting, speed,
artikulasi/kejelasan pelafalan kata
(pronounciation), dan infleksi – lagu kalimat; (2)
Eye Contact –sapukan pandangan ke seluruh
audience; (3) Gesture –gerakan tubuh; alami,
spontan, wajar, tidak dibuat-buat, penuh, tidak
sepotong-sepotong, tidak ragu, sesuai dengan
kata-kata, jangan berlebihan, variatif, tidak
melalukan gerakan tubuh yang tidak bermakna,
seperti memegang kerah baju, mempermainkan
mike, meremas-remas jari, dan menggaruk-
garuk kepala; dan (4) humor, dengan Use
Natural Humor, Don ’t try to be a stand up
comedian, gunakan hentian (pause) sekadar
memberikan kesempatan kepada pendengar
untuk tertawa.*

TEKNIK DASAR ILMU RETHORIKA

*) Bahan Tulisan ini sebagian besar
bersumber pada Buku Retorika
Modern: Pendekatan Praktis, Tulisan
Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Remaja
Rosdakarya, Bandung, 1994.
PENDAHULUAN
Beberapa tahun yang lalu, siapa di antara
kita yang tidak mengenal K.H. Zainudin
M.Z? Siapa di antara kita yang tidak kenal
dengan Aa Gym? Atau siapa di antara kita
yang tidak kenal Bung Karno? Semua
orang pasti mengenalnya. Mengapa
mereka begitu dikenal luas oleh banyak
orang? Apa kelebihan mereka dibanding
orang-orang lainnya? Semuanya sepakat,
kita mengenal ketiga tokoh itu karena
mereka sangat pandai berbicara, pandai
berdakwah, pandai berpidato.
Memang benar, orang yang tadinya bukan
siapa-siapa mendadak bisa berubah
menjadi orang penting dan terkenal hanya
karena ia memiliki kemampuan berbicara
yang menarik dan meyakinkan orang lain.
Kemampuan berbicara diyakini dapat
meningkatkan kualitas eksistensi dan
aktualisasi seseorang di tengah-tengah
lingkungannya. Kemampuan orang dalam
berbicara dapat menjadikan orang itu
memiliki daya tarik dan pesona luar biasa
bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola
yang didambakan oleh banyak orang.
Secara alamiah, setiap orang mampu
berbicara. Berbicara sudah merupakan
aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil
penelitian ilmiah membuktikan, bahwa
sebagian besar waktu bangun kita
digunakan untuk berbicara dengan orang
lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia
ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kita
boleh jadi tahan untuk tidak makan dan
minum selama tiga hari berturut-turut
(bahkan mungkin lebih), tetapi siapa yang
tahan berpuasa bicara selama itu?
Namun demikian, sebagaimana telah
diungkapkan tadi, berbicara yang akan
dapat meningkatkan kualitas eksistensi
(keberadaan) kita di tengah-tengah orang
lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi
berbicara yang menarik (atraktif), bernilai
informasi (informatif), menghibur (rekreatif),
dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata
lain, kita mesti berbicara berdasarkan seni
berbicara yang dikenal dengan istilah
retorika.
Retorika adalah seni berkomunikasi secara
lisan yang dilakukan oleh seseorang
kepada sejumlah orang secara langsung
bertatap muka. Oleh karena itu, istilah
retorika seringkali disamakan dengan istilah
pidato. Pada kesempatan ini, kita akan
sama-sama membicarakan dan berlatih
bagaimana kita harus mempersiapkan dan
melakukan pidato, agar pidato kita itu
memiliki daya tarik, informatif, rekreatif, dan
persuasif.
JENIS-JENIS PIDATO
Berdasarkan pada ada tidaknya persiapan,
sesuai dengan cara yang dilakukan waktu
persiapan, kita dapat membagi jenis pidato
kedalam empat macam, yaitu: impromtu,
manuskrip, memoriter, dan ekstempore.
Pidato impromtu adalah pidato yang
dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa
persiapan sebelumnya. Apabila Anda
menghadiri sebuah acara pertemuan, tiba-
tiba Anda dipanggil untuk menampaikan
pidato, maka pidato yang Anda lakukan
disebut impromtu.
Bagi juru pidato yang berpengalaman,
impromtu memiliki beberapa keuntungan:
(1) Impromtu lebih dapat mengungkapkan
perasaan pembicara yang sebenarnya,
karena pembicara tidak memikirkan lebih
dulu pendapat yang disampaikannya, (2)
Gagasan dan pendapatnya dating secara
spontan, sehingga tampak segar dan hidup,
dan (3) Impromtu memungkinkan Anda
terus berpikir.
Tetapi bagi juru pidato yang masih “hijau”,
belum berpengalaman, keuntungan-
keuntungan di atas tidak akan tampak,
bahkan dapat mendatangkan kerugian
sebagai berikut: (1) Impromtu dapat
menimbulkan kesimpulan yang mentah,
karena dasar pengetahuan yang tidak
memadai, (2) Impromtu mengakibatkan
penyampaian yang tersendat-sendat dan
tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan
bisa “acak-acakan” dan ngawur, dan (4)
Karena tiadanya persiapan, kemungkinan
“demam panggung” besar sekali. Jadi, bagi
yang belum berpengalaman, impromtu
sebaiknya dihindari daripada Anda tampak
“bodoh” di hadapan orang lain.
Pidato Manuskrip adalah pidato dengan
naskah. Juru pidato membacakan naskah
pidato dari awal sampai akhir. Di sini lebih
tepat jika kita menyebutnya”membacakan
pidato” dan bukan “menyampaikan pidato”.
Pidato manuskrip perlu dilakukan jika isi
yang disampaikan tidak boleh ada
kesalahan. Misalnya, ketika Anda diminta
untuk melaporkan keadaan keuangan DKM,
berapa pemasukan, dari mana saja
sumbernya, dan berapa pengeluaran serta
untuk apa uang dikeluarkan, Anda perlu
menuliskannya dalam bentuk naskah dan
baru kemudian membacakannya.
Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis
pidato yang baik walaupun memiliki
keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
(1) Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya
sehingga dapat menyampaikan arti yang
tepat dan pernyataan yang gamblang, (2)
Pernyataan dapat dihemat, karena
manuskrip dapat disusun kembali, (3)
Kefasihan bicara dapat dicapai karena
kata-kata sudah disiapkan, (4) Hal-hal yang
ngawur atau menyimpang dapat dihindari,
dan (5) Manuskrip dapat diterbitkan atau
diperbanyak.
Namun demikian, ditinjau dari
proses komunikasi, pidato manuskrip
kerugiannya cukup berat: (1) Komunikasi
pendengar akan akan berkurang karena
pembicara tidak berbicara langsung kepada
mereka, (2) Pembicara tidak dapat melihat
pendengar dengan baik karena ia lebih
berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga
akan kehilangan gerak dan bersifat kaku,
(3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat
mengubah, memperpendek atau
memperpanjang pesan, dan (4)
Pembuatannya lebih lama.
Pidato Memoriter adalah pidato
yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian
dihapalkan kata demi kata, seperti seorang
siswa madrasah menyampaikan nasihat
pada acara imtihan. Pada pidato jenis ini,
yang penting Anda memiliki kemampuan
menghapalkan teks pidato dan mengingat
kata-kata yang ada di dalamnya dengan
baik. Keuntungannya (jika hapal), pidato
Anda akan lancar, tetapi kerugiannya Anda
akan berpidato secara datar dan monoton,
sehingga tidak akan mampu menarik
perhatian hadirin.
Pidato Ekstempore adalah pidato
yang paling baik dan paling sering
digunakan oleh juru pidato yang
berpengalaman dan mahir. Dalam
menyampaikan pidato jenis ini, juru pidato
hanya menyiapkan garis-garis besar (out-
line) dan pokok-pokok bahasan penunjang
(supporting points) saja. Tetapi, pembicara
tidak berusaha mengingat atau
menghapalkannya kata demi kata. Out-line
hanya merupakan pedoman untuk
mengatur gagasan yang ada dalam pikiran
kita. Keuntungan pidato ekstempore ialah
komunikasi pendengar dan pembicara lebih
baik karena pembicara berbicara langsung
kepada pendengar atau khalayaknya,
pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai
dengan kebutuhan dan penyajiannya lebih
spontan. Pidato jenis ini memerlukan latihan
yang intensif bagi pelakunya.
Jenis-jenis pidato juga dapat kita identifikasi
berdasarkan tujuan pokok pidato yang kita
sampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita
mengenal jenis-jenis pidato: pidato
informatif, pidato persuasif, dan pidato
rekreatif. Pidato informatif adalah pidato
yang tujuan utamanya untuk menyampaikan
informasi agar orang menjadi tahu tentang
sesuatu. Pidato pesuasif adalah pidato
yang tujuan utamanya membujuk atau
mempengaruhi orang lain agar mau
menerima ajakan kita secara sukarela
bukan sukar rela. Pidato rekreatif adalah
pidato yang tujuan utamanya adalah
menyenangkan atau menghibur orang lain.
Namun demikian, perlu kita sadari bahwa
dalam kenyataannya ketiga jenis pidato ini
tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling
melengkapi satu sama lain. Perbedaan di
antara ketiganya semata-mata hanya
terletak pada titik berat (emphasis) tujuan
pokok pidato kita.
TAHAP PERSIAPAN PIDATO
Sebelum berpidato, berdakwah, atau
berceramah, kita harus mengetahui lebih
dulu apa yang akan kita sampaikan dan
tingkah laku apa yang diharapkan dari
khalayak kita; bagaimana kita akan
mengembangkan topik bahasan. Dengan
demikian, dalam tahap persiapan pidato,
ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu:
(1) Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan
(2) Mengembangkan Topik Bahasan.
Memilih Topik dan Tujuan Pidato
Seringkali kita menjadi bingung ketika harus
mencari topik yang baik, seakan-akan dunia
ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-
akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa.
Jangan bingung, karena sebenarnya setiap
orang memiliki keahlian masing-masing,
hanya kita seringkali tidak menyadarinya.
Mang Endang mungkin tidak dapat
berbicara tentang hukum waris dengan
baik, tetapi Mang Endang dapat dengan
lancar berbicara tentang cara memperbaiki
mobil yang rusak. Pak Haji Holis mungkin
akan sangat lancar berbicara tentang
hukum waris, tetapi hampir pasti beliau
akan gagap jika diminta menjelaskan
bagaimana caranya memperbaiki mobil
yang mogok. Inilah yang disebut keahlian
spesifik. Setiap orang punya potensi untuk
ahli di bidangnya masing-masing. Hal yang
akan menjadi masalah bagi seseorang
ketika harus berpidato adalah jika orang itu
memaksakan diri berbicara tentang
persoalan yang tidak dikuasainya, hal yang
tidak dipahaminya (Numawi kitu, ulah
maksakeun anjeun nyarios anu urang
nyalira henteu ngartos kana naon anu
dicarioskeun!).
Untuk membantu Anda menemukan topik
bahasan dalam pidato, Profesor Wayne N.
Thompson menyusun sitematika sumber
topik sebagai berikut:
1. Pengalaman Pribadi:
a. Perjalanan
b. Tempat yang pernah dikunjungi
c. Wawancara dengan tokoh
d. Kejadian luar biasa
e. Peristiwa lucu
f. Kelakukan atau adat yang aneh
2. Hobby dan Keterampilan:
a. Cara melakukan sesuatu
b. Cara bekerja sesuatu
c. Peraturan dan tata cara
3. Pengalaman Pekerjaan dan Profesi
a. Pekerjaan tambahan
b. Profesi Keluarga
4. Masalah Abadi:
a. Agama
b. Pendidikan
c. Masalah kemasyarakatan
d. Persoalan pribadi
5. Kejadian Khusus:
a. Perayaan atau peringatan khusus
(Misalnya, Maulud Nabi)
b. Peristiwa yang erat kaitannya
dengan peringatan
6. Minat Khalayak:
a. Pekerjaan
b. Rumah tangga
c. Kesehatan dan penampilan
d. Tambahan ilmu
Kriteria Topik yang Baik
Untuk menentukan topik yang baik, kita
dapat menggunakan ukuran-ukuran
sebagai berikut:
1. Topik harus sesuai dengan latar
belakang pengetahuan Anda
Topik yang paling baik adalah topik
yang memberikan kemungkinan
Anda lebih tahu daripada khalayak,
Anda lebih ahli dibandingkan
dengan kebanyakan pendengar.
Jika Anda merupakan orang yang
paling tahu tentang tata cara sholat
yang baik dibandingkan dengan
orang lain, maka berpidatolah
dengan tema atau topik itu;
sebaliknya jika Anda tidak begitu
paham tentang tata cara sholat
yang baik, jangan pernah Anda
memaksakan diri untuk berbicara
tentang masalah itu.
2. Topik harus menarik minat Anda
Topik yang enak dibicarakan tentu
saja adalah topik yang paling Anda
senangi atau topik yang paling
menyentuh emosi Anda. Anda akan
dapat berbicara lancar tentang
kaitan berpuasa dengan
ketentraman hati, sebab Anda
pernah merasa tidak tenang ketika
pernah tidak berpuasa secara
sengaja di bulan ramadhan.
3. Topik harus menarik minat
pendengar
Dalam berdakwah atau berpidato,
kita berbicara untuk orang lain,
bukan untuk diri kita sendiri. Jika
tidak ingin ditinggalkan pendengar
atau diacuhkan oleh hadirin, Anda
harus berbicara tentang sesuatu
yang diminati mereka. Walaupun
hal-hal yang menarik perhatian itu
sangat tergantung pada situasi dan
latar belakang khalayak/hadirin,
namun hal-hal yang bersifat baru
dan indah, hal-hal yang menyentuh
rasa kemanusiaan, petualangan,
konflik, ketegangan, ketidakpastian,
hal yang berkaitan dengan
keluarga, humor, rahasia, atau hal-
hal yang memiliki manfaat nyata
bagi hadirin adalah topik-topik yang
akan menarik perhatian.
4. Topik harus sesuai dengan
pengetahuan pendengar
Betapapun baiknya topik, jika tidak
dapat dicerna oleh khalayak, topik
itu bukan saja tidak menarik tetapi
bahkan akan membingungkan
mereka. Oleh karena itu, sebelum
Anda menentukan topik dakwah,
ketahuilah terlebih dahulu
bagaimana rata-rata tingkat
pengetahuan pendengar yang
menjadi khalayak sasaran pidato
Anda. Gunakanlah bahasa, gaya
bahasa, dan istilah-istilah yang
dimengerti oleh hadirin, bukan
istilah-istilah yang hanya dipahami
oleh Anda (meskipun istilah itu
keren sekali).
5. Topik harus jelas ruang lingkup dan
pembatasannya
Topik yang baik tidak boleh terlalu
luas, sehingga setiap bagian hanya
memperoleh ulasan sekilas saja,
atau “ngawur”. Misalnya, Anda
memilih topik Agama, tetapi kita
tahu agama itu luas sekali. Agama
bisa menyangkut moralitas, sistem
kepercayaan, cara beribadat, dan
lain-lain. Agar topik kita jelas,
ambilah misalnya tentang cara
beribadat, lebih jelas lagi ambilah
topik tentang sholat yang khusu’,
dan seterusnya.
6. Topik harus sesuai dengan waktu
dan situasi
Maksudnya, kita harus memilih topik
pidato atau topik dakwah yang
sesuai dengan waktu yang tersedia
dan situasi yang terjadi. Jika Anda
diberikan waktu untuk berbicara
selama 10 menit, janganlah Anda
memilih topik yang terlalu luas yang
tidak mungkin dijelaskan dalam
waktu 10 menit. Jika Anda harus
berbicara di hadapan para santri
yang rata-rata usianya belum akil
baligh, janganlah Anda memilih
topik dakwah tentang tata cara
hubungan suami-istri, bicaralah
tentang kebersihan sekolah,
misalnya.
7. Topik harus dapat ditunjang dengan
bahan yang lain
Jika Anda memilih topik tentang
Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi
bahan pembicaraan Anda dengan
sumber-sumber rujukan (bisa
berupa: kitab, buku, atau perkataan
ulama) yang sesuai.
Merumuskan Judul Pidato
Hal yang erat kaitannya dengan topik
adalah judul. Bila topik adalah pokok
bahasan yang akan diulas, maka judul
adalah nama yang diberikan untuk pokok
bahasan itu. Seringkali judul telah
dikemukakan lebih dahulu kepada
khalayak, karena itu judul perlu dirumuskan
terlebih dahulu. Judul yang baik harus
memenuhi tiga syarat, yaitu: relevan,
propokatif, dan singkat. Relevan artinya
ada hubungannya dengan pokok-pokok
bahasan; Propokatif artinya dapat
menimbulkan hasrat ingin tahu dan
antusiasme pendengar; Singkat berarti
mudah ditangkap maksudnya, pendek
kalimatnya, dan mudah diingat.
Menentukan Tujuan Pidato
Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal:
memberitahukan (informatif),
mempengaruhi (persuasif), dan menghibur
(rekreatif).
Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat
dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan
khusus bersifat kongkret dan sebaiknya
dapat diukur tingkat pencapaiannya atau
dapat dibuktikan segera.
Hubungan antara topik judul, tujuan umum,
dan tujuan khusus dapat dilihat pada
contoh-contoh di bawah ini:
1. Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf
Judul : Pemaaf Sumber
Kebahagiaan
Tujuan Umum : Informatif (memberi
tahu)
Tujuan Khusus: Pendengar
mengetahui bahwa:
a. Sifat dendam menimbulkan
gangguan jasmani dan rohani
b. Sifat pemaaf menimbulkan
ketentraman jiwa dan kesehatan
2. Topik : Keuntungan mengikuti sholat
berjamaah
Judul : Sholat berjamaah adalah
keutamaan sholat
Tujuan Umum : Mempengaruhi
(Persuasif)
Tujuan Khusus :
a. Pendengar memperoleh
keyakinan tetantang keutamaan
sholat berjamaah
b. Pendengar berbondong-bondong
sholat berjamaah di masjid
3. Topik : Kisah-kisah lucu zaman Nabi
dan Khalifah
Judul : Yang benar menang, yang
salah kalah
Tujuan Umum : Menghibur
(rekreatif)
Tujuan Khusus :
Pendengar dapat menikmati kisah
lucu Ratu Balqis dikerjai oleh Nabi
Sulaiman, Siti Zulaikha menggoda
Nabi Yusuf, atau Abu Nawas
menjawab teka-teki raja, dan lain-
lain.
Perlu diingat, bahwa dalam kenyataannya
tidak ada pidato yang berdiri sendiri.
Sebuah pidato atau topik pidato bisa berisi
ketiga-tiganya; artinya, dalam pidato atau
dakwah bisa ada unsur informatif,
sekaligus persuasif dan rekreatif. Dengan
kata lain, dalam sebuah kegiatan
berdakwah, bisa ada unsur memberitahu,
mempengaruhi (mengajak), dan juga
menghibur. Coba Anda ingat kembali,
bagaimana K.H. Zainudin M.Z. berdakwah,
di samping memberi ceramah, beliau pun
menyeru dan ngabodor. Dakwah yang baik
adalah yang mengandung ketiga unsur
tujuan tersebut.
Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan
Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita
memerlukan keterangan untuk menunjang
topik tersebut. Keterangan penunjang
(supporting points) dipergunakan untuk
memperjelas uraian, memperkuat kesan,
menambah daya tarik, dan mempermudah
pengertian.
Ada enam macam teknik pengembangan
bahasan dalam berpidato:
1. Penjelasan
2. Contoh
3. Analogi
4. Testimoni
5. Statistik
6. Perulangan
Penjelasan. Penjelasan adalah
memberikan keterangan terhadap istilah
atau kata-kata yang disampaikan.
Memberikan penjelasan dapat
dilakukan dengan cara memberikan
pengertian atau definisi. Misalnya,
istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan
dengan kalimat: “Iman adalah rasa
percaya dan yakin akan kebenaran
adanya Allah di dalam hati dan
dibuktikan dengan perbuatan
melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya.”
Contoh. Contoh adalah upaya untuk
mengkongkretkan gagasan, sehingga
lebih mudah untuk dipahami. Contoh
dalam pidato dapat berupa cerita yang
rinci yang disebut ilustrasi. Untuk
memberikan contoh tetantang
kesabaran, misalnya Anda
menggunakan cerita tentang kesabaran
Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan
Allah melalui penyakit kulit yang
dideritanya.
Analogi. Analogi adalah perbandingan
antara dua hal atau lebih untuk
menunjukkan persamaan atau
perbedaannya. Ada dua macam
analogi: analogi harfiyah dan analogi
kiasan.
Analogi harfiyah (literal analogy) adalah
perbandingan di antara objek-objek dari
kelompok yang sama, karena adanya
persamaan dalam beberapa aspek tertentu.
Misalnya, membandingkan manusia dengan
monyet secara biologis. Analogi kiasan
adalah perbandingan di antara objek-objek
di antara kelompok yang tidak sama.
Misalnya, membandingkan ke-Esaan Allah
dengan menggunakan ayat Al-Quran dan
Injil.
Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli
yang kita kutip untuk menunjang
pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat
kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan di
surat kabar, acara televisi, dan lain-lain,
termasuk kutipan dari kitab suci, hadits, dan
sejenisnya. Misalnya, untuk memperkuat
perkataan Anda tentang betapa mulianya
akhlak Nabi Muhammad SAW, Anda
mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah atau Bukhori-Muslim.
Statistik. Statistik adalah angka-angka yang
dipergunakan untuk menunjukkan
perbandingan kasus dalam jenis tertentu.
Statistik diambil untuk menimbulkan kesan
yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan.
Misalnya, untuk melukiskan betapa
bokbroknya akhlak generasi muda di
Indonesia, Anda menggunakan kalimat,
“Wahai saudara-saudara, menurut hasil
penelitian, saat ini lebih dari 65 persen
remaja di Indonesia telah melakukan
hubungan seks sebelum nikah…”
Perulangan. Perulangan adalah
menyebutkan kembali gagasan yang sama
dengan kata-kata yang berbeda.
Perulangan berfungsi untuk menegaskan
dan mengingatkan kembali.
Dengan menggunakan keenam teknik
pengembangan pokok bahasan tersebut
(secara berganti-ganti), maka pidato atau
dakwah yang Anda sampaikan insya Allah
tidak akan membosankan pendengar, tapi
sebaliknya dakwah Anda akan tampak
penuh variasi dan tidak membosankan
untuk didengar.
TAHAP PENYUSUNAN PIDATO
Seringkali kita mendengar seseorang yang
berpidato panjang tanpa memperoleh apa-
apa daripadanya selain kelelahan dan
kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan
pembicara mempunyai bahan yang banyak
tetapi tidak mampu mengorganisasikannya.
Pidato yang tidak teratur, bukan hanya
menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga
akan membingungkan pembicaranya itu
sendiri. Ibarat pakaian yang harganya
sangat mahal, pasti akan membuat orang
yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai
secara acak-acakan. Herbert Spencer
pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang
itu tidak teratur, maka makin banyak
pengetahuan yang dimilikinya, makin besar
pula kekacauan pikirannya.”
Pada pidato, keteraturan merangkai kata-
kata akan sangat menentukan daya tarik
pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main
dengan peluru, maka orator (jago pidato)
bermain dengan kata-kata. Bagaimana
kata-kata itu harus kita mainkan dalam
pidato? Kita akan membahasnya secara
teknis.
Prinsip-prinsip Komposisi Pidato
Banyak cara menyusun pesan pidato, tetapi
semuanya harus didasari dengan tiga
prinsip komposisi. Prinsip-prinsip ini
mempengaruhi seluruh organisasi pesan.
Raymond S. Ross berkata, “These three
great rhetorical principles…have a profound
bearing upon how we should organize
messages.” Ketiga prinsip itu adalah:
kesatuan (unity), pertautan (coherence),
dan titik berat (emphasis).
Kesatuan (unity)
Komposisi yang baik harus merupakan
kesatuan yang utuh, yang meliputi kesatuan
dalam isi, tujuan, dan sifat (mood). Dalam
isi, harus ada gagasan tunggal yang
mendominasi seluruh uraian, yang
menentukan dalam pemilihan bahan-bahan
penunjang. Bila tema dakwah kita adalah
“Pembuktian Adanya Tuhan Secara
Aqliyah”, maka kita tidak membicarakan
sifat-sifat Tuhan, macam-macam Tuhan,
atau dalil-dalil naqli tentang adanya Tuhan.
Di sini kita mungkin hanya membicarakan
argumentasi logika dan moral tentang
keberadaan Tuhan dihubungkan dengan
mahluk ciptaan-Nya; setiap benda ciptaan
dihubungkan dengan yang
menciptakannya; ada ciptaan pasti ada
pencipta.
Komposisi juga harus mempunyai satu
macam tujuan. Satu tujuan di antara yang
tiga -memberitahukan, mempengaruhi, dan
menghibur- harus dipilih. Dalam pidato
mempengaruhi (persuasif) boleh saja kita
menyelipkan cerita-cerita lucu, sepanjang
cerita lucu itu menambah daya persuasi.
Bila cerita lucu itu tidak ada hubungannya
dengan persuasi, betapa pun menariknya ia
harus kita buang. Dalam pidato informatif,
humor dipergunakan dengan pertimbangan
dapat memperjelas uraian.
Kesatuan juga harus tampak dalam sifat
pembicaraan (mood). Sifat pembicaraan
mungkin serius, informal, formal, anggun,
atau bermain-main. Kalau Anda memilih
sifat informal, maka suasana formalitas
harus mendominasi seluruh uraian. Ini
menentukan pemilihan bahan, gaya
bahasa, atau pemilihan kata-kata. Misalnya,
dalam suasana informal gaya pidato seperti
bercakap-cakap (conversational) dan akrab
(intimate) lebih tepat untuk digunakan
dibanding gaya pidato ceramah.
Untuk pempertahankan kesatuan dalam
pidato, bukan saja diperlukan ketajaman
pemikiran, tetapi juga kemauan untuk
membuang hal-hal yang mubazir.
Kurangnya kesatuan akan menyebankan
pendengar menilai pidato kita sebagai
pidato yang “ngawur” bertele-tele, tidak
jelas apa yang dibicarakan, “meloncat-
loncat”.
Pertautan (coherence)
Pertautan menunjukkan urutan bagian
uraian yang berkaitan satu sama lain.
Pertautan menyebabkan perpindahan dari
pokok yang satu kepada pokok yang
lainnya berjalan lancar. Sebaliknya,
hilangnya pertautan menimbulkan gagasan
yang tersendat-sendat atau pendengar
tidak akan mampu menarik gagasan pokok
dari seluruh pembicaraan. Ini biasanya
disebabkan perencanaan yang tidak
memadai, pemikiran yang ceroboh, dan
penggunaan kata-kata yang jelek.
Untuk memelihara pertautan dapat
dipergunakan tiga cara: ungkapan
penyambung (connective phrases),
pararelisme, dan gema (echo). Ungkapan
penyambung adalah sebuah kata atau lebih
yang digunakan untuk merangkaikan
bagian-bagian. Contoh-contoh ungkapan
penyambung: karena itu, walaupun, jadi,
selain itu, sebaliknya, misalnya, sebagai
contoh, dengan perkataan lain, sebagai
ilustrasi, bukan saja, … dan sebagainya.
Paralelisme ialah mensejajarkan struktur
kalimat yang sejenis dengan ungkapan
yang sama untuk setiap pokok
pembicaraan. Misalnya, “Ulama sebagai
Pemuka Pendapat memiliki empat ciri: Ia
mengetahui lebih banyak, ia berpendidikan
lebih tinggi, ia mempunyai status sosial
yang lebih terhormat, dan ia lebih sering
bepergian ke luar sistem sosial
dibandingkan dengan anggota masyarakat
yang lain.”
Gema (echo) berarti kata atau gagasan
dalam kalimat terdahulu diulang kembali
pada kalimat baru. Pada contoh di bawah
ini, yang dicetak miring adalah “gema”.
Keempat ciri ulama di atas sangat
menentukan tingkat partisipasinya
dalam mengemukakan pendapat.
Yang disebut terakhir, yaitu sering
bepergian ke luar sistem sosial,
sangat besar pengaruhnya
terhadap kemampuan ulama dalam
menyerap ide-ide pembaruan.
Gema dapat berupa persamaan
kata (sinonim), perulangan kata, kata ganti
seperti itu, itu, hal tersebut, ia, mereka, atau
istilah lain yang menggantikan kata-kata
yang terdahulu.
Titik Berat (emphasis)
Bila kesatuan dan pertautan membantu
pendengar untuk mengikuti dengan mudah
jalannya pembicaraan, titik berat
menunjukkan mereka pada bagian-bagian
penting yang patut diperhatikan. Hal-hal
yang harus dititikberatkan bergantung pada
isis komposisi pidato, tetapipokok-pokoknya
hampir sama. Gagasan utama (central
ideas), ikhtisar uraian, pemikiran baru,
perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan
khalayak pendengar adalah contoh-contoh
bagian yang harus dititikbrratkan, atau
ditekankan. Dalam pesan tertulis, titik berat
dapat dinyatakan dengan tanda garis
bawah, huruf miring, huruf tebal, atau huruf
besar. Dalam uraian lisan, titik berat dapat
dinyatakan dengan hentian, tekanan suara
yang dinaikkan, perubahan nada (intonasi),
isyarat, dan sebagainya. Dapat pula
didahului dengan keterangan penjelas
seperti “Akhirnya sampailah pada inti
pembicaraan saya”, atau “Saudara-
saudara, yang terpenting bagi kita adalah
…”, dan sebagainya.
Teknik Menyusun Pesan Pidato
H.A. Overstreet, seorang ahli ilmu jiwa
untuk mempengaruhi manusia, berkata, “let
your speech march”. Suruh pidato Anda
berbaris tertib seperti barisan tentara dalam
suatu pawai. Pidato yang tersusun tertib
(well-organized) akan menciptakan
suasana yang favorable, membangkitkan
minat, memperlihatkan pembagian pesan
yang jelas, sehingga memudahkan
pengertian, mempertegas gagasan pokok,
dan menunjukkan perkembangan pokok-
pokok pikiran secara logis.
Pengorganisasian pesan dapat dilihat
menurut isi pesan itu sendiri atau dengan
mengikuti proses berpikir manusia. Yang
pertama kita sebut organisasi pesan
(messages organization) dan yang kedua
disebut pengaturan pesan (message
arrangement).
Organisasi Pesan
Organisasi pesan dapat mengikuti enam
macam urutan (sequence), yaitu: deduktif,
induktif, kronologis, logis, spasial, dan
topikal. Urutan deduktif dimulai dengan
menyatakan dulu gagasan utama,
kemudian memperjelasnya dengan
keterangan penunjang, penyimpulan, dan
bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita
mengemukakan perincian-perincian dan
kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda
menyatakan dulu mengapa perlu
menghentikan kebiasaan merokok, lalau
menguraikan alasan-alasannya, Anda
menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila
Anda menceritakan sekian banyak contoh
dan pernyataan dokter tentang akibat buruk
merokok dan kemudian Anda
menyimpulkan bahwa rokok berbahaya
bagi kesehatan, maka Anda menggunakan
urutan induktif.
Dalam urutan kronologis, pesan disusun
berdasarkan urutan waktu terjadinya
peristiwa. Bila Anda diminta untuk
berbicara tentang perjalanan Nabi
Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan
Mi’raj, Anda dapat membagi pesan sebagai
berikut: (1) Kisah Perjalanan Nabi
Muhammad dan Malaikat Jibril dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa dan (2) Kisah
Perjalan Nabi dan Malaikat Jibril dari
Masjidil Aqsa ke Mustawan.
Dalam urutan logis, pesan disusun
berdasarkan sebab ke akibat atau dari
akibat ke sebab. Bila Anda menjelaskan
proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu
ke gejala-gekalnya, maka Anda mengikuti
urutan logis dari sebab ke akibat. Tetapi
jika Anda memulai pembicaraan dari gejala-
gejala atau tanda-tanda kekufuran, seperti
seringnya seseorang bebuat syirik,
meninggalkan kewiban sholat, memuja
kuburan, lalu kemudian menjelaskan sebab-
sebabnya, maka Anda mengikuti urutan
logis dari akibat ke sebab.
Dalam urutan spasial, pesan disusun
berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan
jika pesan berhubungan dengan subjek
geografis atau keadaan fisik lokasi.
Ceramah tentang kisah perjuangan Nabi
Muhammad SAW dalam menyebarkan
agama Islam, dapat disusun: (1) Kisah
perjuangan Nabi di ketika di Mekah dan (2)
Kisah Perjuangan Nabi di Madinah.
Dalam urutan topikal, pesan disusun
berdasarkan topik pembicaraan:
klasifikasinya, dari yang penting ke yang
kurang penting, dari yang mudah ke yang
sukar, dari yang dikenal ke yang asing.
Ketika Anda diminta untuk berceramah
tentang “Tiga Mutiara Hidup”, Anda
menyusun topik pembicaraan mulai dari
membicarakan masalah: Iman, Islam, dan
Ikhsan, maka pidato Anda dapat dikatakan
menggunakan urutan secara kronologis.
Pengaturan Pesan
Bila pesan sudah terorganisasi dengan
baik, kita masih perlu menyesuaikan
organisasi pesan ini dengan cara berpikir
khalayak pendengar. Urutan pesan yang
sejalan dengan proses berpikir manusia
disebut oleh Alan H. Monroe sebagai
motivated sequence (urutan bermotif).
Menurut Monroe, ada lima tahap urutan
bermotif: perhatian (attention), kebutuhan
(needs), pemuasan (satisfaction),
visualisasi (visualization), dan tindakan
(action).
Dengan demikian, pidato yang baik dan
efektif adalah pidato yang sejak awal
mampu membangkitkan perhatian khalayak
pendengar, mampu membuat pendengar
merasakan adanya kebutuhan tertentu,
memberikan petunjuk bagaimana cara
memuaskan kebutuhan tersebut, dapat
menggambarkan dalam pikirannya
penerapan usul yang dianjurkan
kepadanya, dan akhirnya mampu
menggerakkan khalayak untuk bertindak
sesuai anjuran kita.
Misalnya, kita akan mengajak seseorang
untuk memotong rambutnya yang
gondrong. Anda memuali pembicaraan
dengan melontarkan perkataan: “Lihat
rambutmu!!! Kutu-kutu bergelantungan
dengan bebasnya…” Anda sedang
memasuki tahap perhatian. Lalu Anda
berkata lagi, “Kutu-kutu itu tentu membuat
kepalamu gatal dan kamu pasti tidak bisa
tidur nyenyak…” Anda tengah berada pada
tahap membangkitkan kebutuhan.
“Memotong rambut itu mudah dan murah,
cukup dengan uang Rp 3.000 atau bahkan
gratis…” Anda masuk pada tahap
pemuasan. “Jika kamu tetap membiarkan
rambutmu jabrig begitu dan membebaskan
kutu-kutu menyedot darahmu, kamu tampak
seperti orang kurang waras dan mustahil
gadis-gadis di desa ini akan tertarik
kepadamu…, tapi jika kamu cepat
memotong dan merapihkan rambutmu,
kutu-kutu itu akan segera mengucapkan
selamat tinggal pada kepalamu dan gadis-
gadis cantik akan mengucapkan selamat
datang arjunaku…” Anda sudah masuk
pada tahap visualisai. “Ayo, cukurlah
rambutmu sekarang…!!!” Anda melakukan
tahap tindakan.
Membuat Garis-garis Besar Pidato
Garis-garia besar (out-line) pidato
merupakan pelengkap yang amat berharga
bagi pembicara yang berpengalaman dan
merupakan keharusan bagi pembicara yang
belum berpengalaman. Garis besar pidato
ibarat peta bumi bagi komunikator yang
akan memasuki daerah kegiatan retorika.
Peta ini memberikan petunjuk dan arah
yang akan dituju. Garis besar yang salah
akan mengacaukan “perjalanan”
pembicaraan, dan garis besar yang teratur
akan menertibkan “jalannya” pidato.
Garis-garis besar pidato yang baik terdiri
dari tiga bagian: pengantar, isi, dan
penutup. Dengan menggunakan urutan
bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat
membaginya menjadi lima bagian:
perhatian, kebutuhan, pemuasan,
visualisasi, dan tindakan. Perhatian
ditempatkan pada pengantar; kebutuhan,
pemuasan, dan visualisasi kita tempatkan
pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada
penutup pidato.
TAHAP MENYAMPAIKAN PIDATO
Kita seringkali menyaksikan seseorang
yang berpidato di mimbar bergetar (dalam
bahasa Sunda: ngadegdeg), suaranya
tersendat-sendat, muka dan badanya
basah kuyup karena guyuran keringat yang
mengalir deras. Hadirin diam, terkesima…
bukan karena kagum pada penampilanny
tetapi karena ………. kasihan dan tidak
tega melihatnya. Dalamilmu komunikasi,
keadaan seperti itu disebut kecemasan
berkomunikasi (communication
apprehension).
Kecemasan berkomunikasi adalah batu
sandungan yang besar bagi seorang
pembicara. Ia menghilangkan kepercayaan
diri. Kecemasan berkomunikasi amat
mempengaruhi kredibilitas komunikator.
Betapa pun bagusnya pesan yang Anda
sampaikan, betapa pun sistematisnya
organisasi pesan yang Anda buat, tanpa
kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda
akan kehilangan pengaruh dan pendengar
sekaligus.
Sebab-sebab Kecemasan Komunikasi
Orang mengalami kecemasan komunikasi
disebabkan beberapa hal. Pertama, tidak
tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak
tahu bagaimana memulai pembicaraan. Ia
tidak dapat memperkirakan apa yang
diharpkan pendengar. Ia menghadapi
sejumlah ketidakpastian. Untuk mengatasi
sebab pertama ini, latihan dan pengalaman
sangat diperlukan. Pengetahuan tentang
retorika akan memberikan kepastian ke
[adanya untuk memulai, melanjutkan, dan
mengakhiri pembicaraan. Latihan-latihan
akan memberikan pengalaman. Melalui
latihan, ia akan dapat memastikan, atau
paling tidak menduga, reaksi
pendengarnya. Resepnya: “Bisa karena
biasa”. Dale Carnegie memberikan nasihat
yang singkat, “Lakukan apa yang Anda
takut melakukannya”. Jadi, jika Anda takut
berbicara di depan khalayak (orang
banyak), cobalah berbicara di depan
mereka.
Sayang sekali, orang yang takut berpidato
justru selalu menghindari kesempatan untuk
itu. Makin sering ia menghindari bicara,
makin sulit ia untuk melakukannya. Bila
suatu saat ia “terjebak” untuk berbicara, ia
tentu akan mengalami peristiwa yang
sangat traumatis. Terjadilah lingkaran
setan, ia makin membenci pidato, dan
karena kebenciannya itu ia akan gagal
terus dalam berpidato. Akhirnya,
terbentuklah citra diri (self image): Saya
tidak mempunyai bakat untuk berpidato.
Saya tidak mampu berpidato. Saya memang
tidak dilahirkan untuk berpidato, tetapi
untuk mendengar. Dengan citra diri seperti
itu, ia tidak akan memiliki kepercayaan diri
(self confidence). Tanpa kepercayaan diri,
ia gagal. Kegagalan akan memperburuk lagi
citra diri. Begitulah seterusnya, seperti
lingkaran setan.
Kedua, orang menderita kecemasan
komunikasi karena tahu ia akan dinilai oleh
orang lain. Berhadapan dengan penilaian
membuat orang menjadi gugup atau
nervous. Penilaian dapat mengangkat dan
menjatuhkan harga dirinya. Tetapi pada
umumnya kita memperhatikan yang kedua.
Bagaimana bila kita dipermalukan orang?
Alangkah malunya bila humor yang kita
buat tidak membuat orang tertawa, tetapi
justru membuat orang menertawakan kita?
Bagaimana kalau kita kelihatan tolol dan
bodoh di hadapan orang banyak? Semua
yang dutakutkan itu sebenarnya lebih
banyak terdapat di dalam pikiran dan
perasaan kita daripada dalam kenyataan.
Seandainya pidato kita gagal, harga diri kita
tidaklah akan jatuh serendah itu. Apalagi,
berdasarkan pengalaman, kegagalan itu
hanya terjadi pada percobaan-percobaan
yang pertama saja, dan khalayk pendengar
pun pasti memakluminya. Bukankah kita
dulu waktu kecil pernah jatuh berkali-kali
sebelum dapat berjalan dan berlari kencang
seperti sekarang ini?
Ketiga, kecemasan komunikasi dapat
menimpa pemula, bahkan mungkin juga
menimpa orangorang yang terkenal
sebagai pembicara yang baik. Hal ini dapat
terjadi jika pembicara berhadapan dengan
situasi yang asing dan ia tidak siap.
Misalnya, ia diminta berbnicara dihadapan
khalayak yang tidak ia kenal dan mereka
tidak mengenalnya; atau ia harus berbicara
tentang persoalan yang sama sekali tidak
dikuasainya; atau ia tidak punya cukup
waktu untuk membuat persiapan. Cara
mengatasinya: lakukan analisis situasi dan
analisis khalayak, carilah topik pembicaraan
yang paling Anda kuasai sehingga Anda
tampak kredibel.
Cara-cara Penyampaian Pidato
Tahapan yang dilakukan dalam
menyampaikan pidato secara garis besar
terdiri dari tiga tahap: (1) Tahap Membuka
Pidato, (2) Tahap Mengembangkan Isi
Pidato, dan (3) Tahap Menutup Pidato.
Pembukaan pidato adalah bagian penting
dan menentukan. Kegagalan dalam
membuka pidato akan menghancurkan
seluruh komposisi dan presentasi pidato.
Tujuan utama pembukaan pidato adalah
membangkitkan perhatian , memperjelas
latar belakang pembicaraan, dan
menciptakan kesan yang baik mengenai
komunikator. “Perhatian akan menentukan
tindakan,” kata William James. Tetapi kesan
pertama akan menentukan sikap. Karena
itu seorang pembicara harus memulai
pembicaraannya dengan penuh
kesungguhan, sehingga ia kelihatan
mantap, berwibawa, dan mampu. Ucapan-
ucapan apologetis seperti minta maaf atau
sikap merendahkan diri semuanya harus
Anda hindari. Walaupun demikian, tidak
baik pula Anda menepuk dada dan
menyombongkan diri.
Hal pertama kali yang harus Anda lakukan
dalam tahap ini (tahap pembukaan) adalah
mengesankan agar pendengar siap untuk
memperhatikan Anda. Bangkitkan perhatian
pendengar pada Anda dan topik yang akan
Anda sampaikan! Bagaimana caranya? Di
bawah ini diuraikan pedoman dalam
membuka pidato, Anda dapat memilih salah
satu di antara cara-cara di bawah ini:
Langsung menyebutkan pokok
persoalan.
Komunikator (orang yang
melakukan pidato) menyebutkan
ahal yang akan dibicarakannya dan
memberikan kerangka
pembicaraannya. Cara ini biasanya
dilakukan bila topik adalah pusat
perhatian khalayak. Di depan
hadirin yang sudah lama menanti
penjelasan tentang hukum waris
(faro’id), seorang mubaligh memulai
pidatonya sebagai berikut:
Saudara-saudara, pagi ini saya
akan membicarakan cara-cara
mengatur dan membagi-bagikan
harta warisan kepada ahli waris
menurut hukum Islam.
2. Melukiskan latar belakang masalah
Komunikator menerangkan sejarah
topik, membatasai pengertian, dan
menyatakan masalah-masalah
utamanya. Mengapa timbul
persoalan itu, apa hubungannya
dengan khalayak, dan mengapa
dipilih masalah itu. Seorang
mubaligh yang berbicara tentang
pentingnya infak memulai pidatonya
seperti ini:
Saudara-saudara, sudah lama kita
mengetahui bahwa banyak usaha
amal shalih yang tidak dapat
dijalankan karena kekuarangan
dana. Islam mengajarkan cara
mengumpulkan dana yang disebut
infak. Infak adalah kelebihan harta
yang digunakan untuk proyek yang
produktif bagi masyarakat. Al Quran
mengatakan bahwa infak adalah
satu ciri orang yang takwa, ciri
saudara-saudara yang beriman
kepada Allah dan hari akhir…
3. Menghubungkan dengan peristiwa
mutakhir atau kejadian yang tengah
menjadi pusat perhatian khalayak
Dengan menambatkan pembicaraan
kepada fokus perhatian khalayak,
kita mempunyai peluangyang baik
untuk memasukkan ide-ide kita dan
menimbulkan kesan yang kuat.
Sebagai contoh, pada tanggal 8
Desember 1941, Franklin D.
Roosevelt, Presiden Amerika
Serikat, menyamoaikan pidato
pernyataan perang kepada Jepang
di depan kongres dengan pidato
seperti ini:
Kemarin, 7 Desember 1941 –
tanggal yang akan tetap
abadi- Amerika Serikat tiba-
tiba dan secara sengaja
diserang oleh Angkatan
Laut dan Angkatan Udara
Kerajaan Jepang…
4. Menghubungkan dengan peristiwa
yang sedang diperingati
Ini biasanya dilakukan dalam pidato
untuk memperingati hari bersejarah,
bangunan baru, atau orang besar
yang sudah tiada. Cara ini dapat
pula dipakai pada pesta kelahiran,
perkawinan, selamatn, atau
upacara kematian. Seorang
mubaligh muda memulai pidatonya
dalam peringatan maulud nabi
sebagai berikut:
Saudara-saudara, hadirin sekalian!
Alangkah bahagianya kita, kaum
muslimin, pada hari ini. Pada hari
ini, kita masih diberikan kesempatan
umur sehingga kita dapat
memperingati kelahiran orang yang
paling kita junjung tinggi, Nabi Besar
Muhammad SAW. Banyak hikmah
yang dapat kita petik dari sejarah
kelahiran Rasulullah…
5. Menceritakan pengalaman pribadi
Pengalaman pembicara yang
menarik dapat membuka minat
pendengar. Pengalaman tersebut
akan terasa “dekat” dan “nyata”,
sebab orang yang mengalaminya
hadir ditengah-tengah khalayak.
Dalam sebuah kampanye Pemilu
tahun 1977, seorang juru kampanye
memulai pidatonya seperti ini:
Dua hari yang lalu saya berpidato di
tengah-tengah rakyat kecil di
Sukabumi. Udara terik membakar,
lapangan penuh sesak, dan
panggung tempat saya berdiri
dipenuhi pemuda-pemuda belasan
tahun. Tidak jauh dati panggung
berdiri seorang kakek. Mukanya
sudah keriput, punggungnya sudah
bongkok, tapi… pada matanya saya
lihat cahaya harapan yang menyala-
nyala untuk turut berjuang dengan
partai saya…
6. Membuat humor
Pembukaan jenis ini adalah yang
paling sukar. Bahkan beberapa
penulis buku teknik berpidato tidak
menganjurkannya. Tetapi bila
berhasil, pembukaan seperti ini
amat berkesan bagi pendengar.
Seorang Jenderal pensiunan
berpidato di hadapan para
purnawiraan dengan pembukaan
seperyti ini:
Saudara-saudara, sesama
purnawiraan!
Sebagai mantan prajurit kita patut
berbangga hati, sebab tentara itu
serba bisa. Tentara Indonesia itu
bisa menjalankan fungsi apa saja:
jadi bupati, bisa; jadi gubernur, bisa;
jadi presiden, bisa; yang tidak bisa
adalah menjalankan fungsi utama
yaitu…berperang!
Dengan pembukaab seperti itu,
hadirin mungkin tertawa terpingkal-pingkal
atau mungkin juga …marah dan memaki
pembicara.
Banyak sekali cara yang dapat kita
lakukan untuk membuka pidato. Coba lihat
kembali hal-hal yang dapat dijadikan topik
bahasan pidato pada halaman 3, itu pun
dapat dijadikan sumber untuk membuka
pidato.
Pengembangan isi pidato pada
dasarnya dilakukan dengan cara
memberikan uraian-uraian penjelasan
terhadap hal-hal yang disampaikan dalam
tahap pembukaan. Dalam tahap
mengembangkan isi pidato, gunakan teknik-
teknik pengembangan poko bahasan yang
sudah diuraikan di halaman 6, yakni:
penjelasan, contoh, analogi, statistik,
testimoni, dan perualangan.
Penutupan pidato adalah sama
pentingnya den gan pembukaan pidato,
dan sangat menentukan keberhasilan
pidato yang kita lakukan. Penutupan pidato
dapat dilakukan dengan cara-cara:
1. Menyimpulkan atau mengemukakan
ikhtisar pembicaraan
2. Menyatakan kembali gagasan utama
dengan kalimat dan kata yang
berbeda
3. Mendorong khalayak untuk bertindak
4. Mengakhiri dengan klimaks
5. Mengutamakan kutipan dari kitab
suci, peribahasa, atau ucapan
seorang ahli
6. Menceritakan contoh yang berupa
ilustrasi dari tema oembicaraan
7. Menerangkan maksud sebenarnya
pribadi pembicara
8. Memuji dan mengharghai khalayal
9. Membuat pernyataan yang humoris
atau anekdot lucu.
PRINSIP-PRINSIP PENYAMPAIAN
PIDATO
Dalam menyampaikan pidato ada tiga
prinsip atau rukun pidato, yakni:
1. Pelihara kontak visual dan kontak
mental dengan khalayak pendengar
(Kontak).
2. Gunakan Lambang-lambang auditif;
atau usahakan agar suara Anda
memberikan makna yang lebih kaya
pada bahasa Anda (Olah Vokal).
3. Berbicaralah dengan seluruh
kepribadian Anda; dengan wajah,
tangan, dan tubuh Anda (Olah
Visual).
PENUTUP
Dengan mengetahui teknik-teknik membuka
dan menutup pidato, bagi Anda terbuka
beberapa alternatif yang dapat Anda pilih.
Tetapi pada akhirnya, mutu teknik-teknik itu
tergantung pada kreativitas Anda sendiri.
Selamat belajar dan mencoba. Semoga
berhasil.

TULODHO MC BOSO JOWO

Assalamu’alaikum wr. wb.
مسب هللا نمحرلا ميحرلا دمحلا هلل بر
نيملاعلا و ةالصلا مالسلاو ىلع فرشا
ءايبنالا و نيلسرملا انديس دمحم ىلعو
هلا هبحصو نيعمجا اما دعب
– Wonten pangarsanipun Al-Karim Ibnil
Karim Shohibul Fadlilah Wal Karomah
__________________________________lan
sedoyo keluarga soho dzuriyahipun
– Poro pejabat pemerintah sahe sipil
menopo TNI ingkang tansah kawulo
hormati, wabil khusus dumateng Bapak
Bupati Wonosobo Bpk. Ahmad Naufa(hehe)
– Kaping sepisan monggo kulo dereaken
samiyo Muji Syukur wonten ngarsani
Ngayunan Dalem Gusti Allah Swt, kanti
Waosan Tahmid, Alhamduliilahirobbil
‘alamiin, awit limpahan Rohmat taufiq
sedhoyo Hidayahipun Allah ing wekdal
ndalu meniko kulo lan panjenengan taseh
saget makempal wonten ing majlis ingkang
mubarrok meniko, mugi-mugi pakempalan
puniko kacatet dening Allah minongko amal
kesaenan, amiin Allohumma Amiin.
Salawat serto salam mugio tansah
kaunjukaken wonten ngayunan dalem Nabi
Agung Muhammad SAW, mugi-mugi kito
sedoyo pikantuk safa ’atipun mbenjang
wonten ing yaumil qiyamah, Allohumma
Amin.
Hadirin-Hadirot ingkang tansah kito
mulyaaken.
Monggo adicoro pengetan Maulid Nabi
Muhammad SAW kito milai, ananging sak
derengipun, keparenga kula aminangkani
pranoto adicoro maosaken menggah
runtutipun adicoro ingkang bade kalampah.
Aminangkani Adicoro ingkang kapisan
inggih puniko Pembukaan.
Adicoro ingkang kaping kalih waosan ayat-
ayat suci AlQuran soho Sholawat nabi.
Adicoro ingkang kaping tigo Mujahadah.
Adicoro ingkang kaping sekawan
sambutan-sambutan.
Adicoro ingkang kaping gangsal Mau’idlotul
khasanah
Adicoro ingkang kaping enem penutup kanti
do ’a.
Hadirin-hadirot ingkang kito mulyaaken
Monggo sesarengan acara Sewelasan
Soho Penutupan Mujahadah Kholwat kito
bikak mawi waosan ummul Kitab :
ءاضرل هللا ىلاعت ةعافشلو لوسر هللا
ىلص هللا هيلع ملسو ةماركبو ناطلس
ءايلوالا خيشلا دبع رداقلا يناليجلا يضر
هللا هنع ىلعو ام ىون فلسلا حلاصلا
ىلعو ام ىون نورضاحلا تارضاحلاو يف اذه
سلجملا ىلعو لك ةين ةحلاص ةحتافلا
……
Kalajengaken adicoro inkang kaping kalih
Wahosan ayat-ayat suci Al-Qur ’an soho
Shalawat Nabi Muhamamd SAW, ingkang
badhe dipun astho dening
__________________________ wekdal soho
papan kito aturaken..
Kaljengaken adicoro ingkang kaping tigo
Mujahadah Tahlil ingkang bade dipun
pimpin dening _________________________
wekdal soho papan kito aturaken.
Sambutan ingkang kaping sepisan
aminangkani Panitia ingkang bade dipun
asto dening
_________________________________________
wekdal soho papan kito aturaken.
Kalajengaken sambutan ingkang kaping
kalih saking
________________________________ wekdal
soho papan kito aturaken.
Hadirin-Hadirot rohimmakumulloh
Kito lajengaken adicoro ingkang kaping
gangsal Mau ’idlotul Khasanah soho
doanipun ingkang bade dipun asto dening
________________________________________________
dumateng panjenenganipun wekdal soho
papan kito aturaken.
Kanti waosan doa kolonembi aminangkani
paripurnaninipun adicoro sewelasan soho
penutupan mujahadah kholwat, saking kula
sedoyo lepat awal tumugi akhir nyuwun
agunging pangapunten.
Wallohul Muwaffiq Ila Aqwamit Thorieq
Wassalamu ’alaikum Wr Wb.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: