TEKNIK DASAR ILMU RETHORIKA

*) Bahan Tulisan ini sebagian besar
bersumber pada Buku Retorika
Modern: Pendekatan Praktis, Tulisan
Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Remaja
Rosdakarya, Bandung, 1994.
PENDAHULUAN
Beberapa tahun yang lalu, siapa di antara
kita yang tidak mengenal K.H. Zainudin
M.Z? Siapa di antara kita yang tidak kenal
dengan Aa Gym? Atau siapa di antara kita
yang tidak kenal Bung Karno? Semua
orang pasti mengenalnya. Mengapa
mereka begitu dikenal luas oleh banyak
orang? Apa kelebihan mereka dibanding
orang-orang lainnya? Semuanya sepakat,
kita mengenal ketiga tokoh itu karena
mereka sangat pandai berbicara, pandai
berdakwah, pandai berpidato.
Memang benar, orang yang tadinya bukan
siapa-siapa mendadak bisa berubah
menjadi orang penting dan terkenal hanya
karena ia memiliki kemampuan berbicara
yang menarik dan meyakinkan orang lain.
Kemampuan berbicara diyakini dapat
meningkatkan kualitas eksistensi dan
aktualisasi seseorang di tengah-tengah
lingkungannya. Kemampuan orang dalam
berbicara dapat menjadikan orang itu
memiliki daya tarik dan pesona luar biasa
bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola
yang didambakan oleh banyak orang.
Secara alamiah, setiap orang mampu
berbicara. Berbicara sudah merupakan
aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil
penelitian ilmiah membuktikan, bahwa
sebagian besar waktu bangun kita
digunakan untuk berbicara dengan orang
lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia
ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kita
boleh jadi tahan untuk tidak makan dan
minum selama tiga hari berturut-turut
(bahkan mungkin lebih), tetapi siapa yang
tahan berpuasa bicara selama itu?
Namun demikian, sebagaimana telah
diungkapkan tadi, berbicara yang akan
dapat meningkatkan kualitas eksistensi
(keberadaan) kita di tengah-tengah orang
lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi
berbicara yang menarik (atraktif), bernilai
informasi (informatif), menghibur (rekreatif),
dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata
lain, kita mesti berbicara berdasarkan seni
berbicara yang dikenal dengan istilah
retorika.
Retorika adalah seni berkomunikasi secara
lisan yang dilakukan oleh seseorang
kepada sejumlah orang secara langsung
bertatap muka. Oleh karena itu, istilah
retorika seringkali disamakan dengan istilah
pidato. Pada kesempatan ini, kita akan
sama-sama membicarakan dan berlatih
bagaimana kita harus mempersiapkan dan
melakukan pidato, agar pidato kita itu
memiliki daya tarik, informatif, rekreatif, dan
persuasif.
JENIS-JENIS PIDATO
Berdasarkan pada ada tidaknya persiapan,
sesuai dengan cara yang dilakukan waktu
persiapan, kita dapat membagi jenis pidato
kedalam empat macam, yaitu: impromtu,
manuskrip, memoriter, dan ekstempore.
Pidato impromtu adalah pidato yang
dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa
persiapan sebelumnya. Apabila Anda
menghadiri sebuah acara pertemuan, tiba-
tiba Anda dipanggil untuk menampaikan
pidato, maka pidato yang Anda lakukan
disebut impromtu.
Bagi juru pidato yang berpengalaman,
impromtu memiliki beberapa keuntungan:
(1) Impromtu lebih dapat mengungkapkan
perasaan pembicara yang sebenarnya,
karena pembicara tidak memikirkan lebih
dulu pendapat yang disampaikannya, (2)
Gagasan dan pendapatnya dating secara
spontan, sehingga tampak segar dan hidup,
dan (3) Impromtu memungkinkan Anda
terus berpikir.
Tetapi bagi juru pidato yang masih “hijau”,
belum berpengalaman, keuntungan-
keuntungan di atas tidak akan tampak,
bahkan dapat mendatangkan kerugian
sebagai berikut: (1) Impromtu dapat
menimbulkan kesimpulan yang mentah,
karena dasar pengetahuan yang tidak
memadai, (2) Impromtu mengakibatkan
penyampaian yang tersendat-sendat dan
tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan
bisa “acak-acakan” dan ngawur, dan (4)
Karena tiadanya persiapan, kemungkinan
“demam panggung” besar sekali. Jadi, bagi
yang belum berpengalaman, impromtu
sebaiknya dihindari daripada Anda tampak
“bodoh” di hadapan orang lain.
Pidato Manuskrip adalah pidato dengan
naskah. Juru pidato membacakan naskah
pidato dari awal sampai akhir. Di sini lebih
tepat jika kita menyebutnya”membacakan
pidato” dan bukan “menyampaikan pidato”.
Pidato manuskrip perlu dilakukan jika isi
yang disampaikan tidak boleh ada
kesalahan. Misalnya, ketika Anda diminta
untuk melaporkan keadaan keuangan DKM,
berapa pemasukan, dari mana saja
sumbernya, dan berapa pengeluaran serta
untuk apa uang dikeluarkan, Anda perlu
menuliskannya dalam bentuk naskah dan
baru kemudian membacakannya.
Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis
pidato yang baik walaupun memiliki
keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
(1) Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya
sehingga dapat menyampaikan arti yang
tepat dan pernyataan yang gamblang, (2)
Pernyataan dapat dihemat, karena
manuskrip dapat disusun kembali, (3)
Kefasihan bicara dapat dicapai karena
kata-kata sudah disiapkan, (4) Hal-hal yang
ngawur atau menyimpang dapat dihindari,
dan (5) Manuskrip dapat diterbitkan atau
diperbanyak.
Namun demikian, ditinjau dari
proses komunikasi, pidato manuskrip
kerugiannya cukup berat: (1) Komunikasi
pendengar akan akan berkurang karena
pembicara tidak berbicara langsung kepada
mereka, (2) Pembicara tidak dapat melihat
pendengar dengan baik karena ia lebih
berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga
akan kehilangan gerak dan bersifat kaku,
(3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat
mengubah, memperpendek atau
memperpanjang pesan, dan (4)
Pembuatannya lebih lama.
Pidato Memoriter adalah pidato
yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian
dihapalkan kata demi kata, seperti seorang
siswa madrasah menyampaikan nasihat
pada acara imtihan. Pada pidato jenis ini,
yang penting Anda memiliki kemampuan
menghapalkan teks pidato dan mengingat
kata-kata yang ada di dalamnya dengan
baik. Keuntungannya (jika hapal), pidato
Anda akan lancar, tetapi kerugiannya Anda
akan berpidato secara datar dan monoton,
sehingga tidak akan mampu menarik
perhatian hadirin.
Pidato Ekstempore adalah pidato
yang paling baik dan paling sering
digunakan oleh juru pidato yang
berpengalaman dan mahir. Dalam
menyampaikan pidato jenis ini, juru pidato
hanya menyiapkan garis-garis besar (out-
line) dan pokok-pokok bahasan penunjang
(supporting points) saja. Tetapi, pembicara
tidak berusaha mengingat atau
menghapalkannya kata demi kata. Out-line
hanya merupakan pedoman untuk
mengatur gagasan yang ada dalam pikiran
kita. Keuntungan pidato ekstempore ialah
komunikasi pendengar dan pembicara lebih
baik karena pembicara berbicara langsung
kepada pendengar atau khalayaknya,
pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai
dengan kebutuhan dan penyajiannya lebih
spontan. Pidato jenis ini memerlukan latihan
yang intensif bagi pelakunya.
Jenis-jenis pidato juga dapat kita identifikasi
berdasarkan tujuan pokok pidato yang kita
sampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita
mengenal jenis-jenis pidato: pidato
informatif, pidato persuasif, dan pidato
rekreatif. Pidato informatif adalah pidato
yang tujuan utamanya untuk menyampaikan
informasi agar orang menjadi tahu tentang
sesuatu. Pidato pesuasif adalah pidato
yang tujuan utamanya membujuk atau
mempengaruhi orang lain agar mau
menerima ajakan kita secara sukarela
bukan sukar rela. Pidato rekreatif adalah
pidato yang tujuan utamanya adalah
menyenangkan atau menghibur orang lain.
Namun demikian, perlu kita sadari bahwa
dalam kenyataannya ketiga jenis pidato ini
tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling
melengkapi satu sama lain. Perbedaan di
antara ketiganya semata-mata hanya
terletak pada titik berat (emphasis) tujuan
pokok pidato kita.
TAHAP PERSIAPAN PIDATO
Sebelum berpidato, berdakwah, atau
berceramah, kita harus mengetahui lebih
dulu apa yang akan kita sampaikan dan
tingkah laku apa yang diharapkan dari
khalayak kita; bagaimana kita akan
mengembangkan topik bahasan. Dengan
demikian, dalam tahap persiapan pidato,
ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu:
(1) Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan
(2) Mengembangkan Topik Bahasan.
Memilih Topik dan Tujuan Pidato
Seringkali kita menjadi bingung ketika harus
mencari topik yang baik, seakan-akan dunia
ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-
akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa.
Jangan bingung, karena sebenarnya setiap
orang memiliki keahlian masing-masing,
hanya kita seringkali tidak menyadarinya.
Mang Endang mungkin tidak dapat
berbicara tentang hukum waris dengan
baik, tetapi Mang Endang dapat dengan
lancar berbicara tentang cara memperbaiki
mobil yang rusak. Pak Haji Holis mungkin
akan sangat lancar berbicara tentang
hukum waris, tetapi hampir pasti beliau
akan gagap jika diminta menjelaskan
bagaimana caranya memperbaiki mobil
yang mogok. Inilah yang disebut keahlian
spesifik. Setiap orang punya potensi untuk
ahli di bidangnya masing-masing. Hal yang
akan menjadi masalah bagi seseorang
ketika harus berpidato adalah jika orang itu
memaksakan diri berbicara tentang
persoalan yang tidak dikuasainya, hal yang
tidak dipahaminya (Numawi kitu, ulah
maksakeun anjeun nyarios anu urang
nyalira henteu ngartos kana naon anu
dicarioskeun!).
Untuk membantu Anda menemukan topik
bahasan dalam pidato, Profesor Wayne N.
Thompson menyusun sitematika sumber
topik sebagai berikut:
1. Pengalaman Pribadi:
a. Perjalanan
b. Tempat yang pernah dikunjungi
c. Wawancara dengan tokoh
d. Kejadian luar biasa
e. Peristiwa lucu
f. Kelakukan atau adat yang aneh
2. Hobby dan Keterampilan:
a. Cara melakukan sesuatu
b. Cara bekerja sesuatu
c. Peraturan dan tata cara
3. Pengalaman Pekerjaan dan Profesi
a. Pekerjaan tambahan
b. Profesi Keluarga
4. Masalah Abadi:
a. Agama
b. Pendidikan
c. Masalah kemasyarakatan
d. Persoalan pribadi
5. Kejadian Khusus:
a. Perayaan atau peringatan khusus
(Misalnya, Maulud Nabi)
b. Peristiwa yang erat kaitannya
dengan peringatan
6. Minat Khalayak:
a. Pekerjaan
b. Rumah tangga
c. Kesehatan dan penampilan
d. Tambahan ilmu
Kriteria Topik yang Baik
Untuk menentukan topik yang baik, kita
dapat menggunakan ukuran-ukuran
sebagai berikut:
1. Topik harus sesuai dengan latar
belakang pengetahuan Anda
Topik yang paling baik adalah topik
yang memberikan kemungkinan
Anda lebih tahu daripada khalayak,
Anda lebih ahli dibandingkan
dengan kebanyakan pendengar.
Jika Anda merupakan orang yang
paling tahu tentang tata cara sholat
yang baik dibandingkan dengan
orang lain, maka berpidatolah
dengan tema atau topik itu;
sebaliknya jika Anda tidak begitu
paham tentang tata cara sholat
yang baik, jangan pernah Anda
memaksakan diri untuk berbicara
tentang masalah itu.
2. Topik harus menarik minat Anda
Topik yang enak dibicarakan tentu
saja adalah topik yang paling Anda
senangi atau topik yang paling
menyentuh emosi Anda. Anda akan
dapat berbicara lancar tentang
kaitan berpuasa dengan
ketentraman hati, sebab Anda
pernah merasa tidak tenang ketika
pernah tidak berpuasa secara
sengaja di bulan ramadhan.
3. Topik harus menarik minat
pendengar
Dalam berdakwah atau berpidato,
kita berbicara untuk orang lain,
bukan untuk diri kita sendiri. Jika
tidak ingin ditinggalkan pendengar
atau diacuhkan oleh hadirin, Anda
harus berbicara tentang sesuatu
yang diminati mereka. Walaupun
hal-hal yang menarik perhatian itu
sangat tergantung pada situasi dan
latar belakang khalayak/hadirin,
namun hal-hal yang bersifat baru
dan indah, hal-hal yang menyentuh
rasa kemanusiaan, petualangan,
konflik, ketegangan, ketidakpastian,
hal yang berkaitan dengan
keluarga, humor, rahasia, atau hal-
hal yang memiliki manfaat nyata
bagi hadirin adalah topik-topik yang
akan menarik perhatian.
4. Topik harus sesuai dengan
pengetahuan pendengar
Betapapun baiknya topik, jika tidak
dapat dicerna oleh khalayak, topik
itu bukan saja tidak menarik tetapi
bahkan akan membingungkan
mereka. Oleh karena itu, sebelum
Anda menentukan topik dakwah,
ketahuilah terlebih dahulu
bagaimana rata-rata tingkat
pengetahuan pendengar yang
menjadi khalayak sasaran pidato
Anda. Gunakanlah bahasa, gaya
bahasa, dan istilah-istilah yang
dimengerti oleh hadirin, bukan
istilah-istilah yang hanya dipahami
oleh Anda (meskipun istilah itu
keren sekali).
5. Topik harus jelas ruang lingkup dan
pembatasannya
Topik yang baik tidak boleh terlalu
luas, sehingga setiap bagian hanya
memperoleh ulasan sekilas saja,
atau “ngawur”. Misalnya, Anda
memilih topik Agama, tetapi kita
tahu agama itu luas sekali. Agama
bisa menyangkut moralitas, sistem
kepercayaan, cara beribadat, dan
lain-lain. Agar topik kita jelas,
ambilah misalnya tentang cara
beribadat, lebih jelas lagi ambilah
topik tentang sholat yang khusu’,
dan seterusnya.
6. Topik harus sesuai dengan waktu
dan situasi
Maksudnya, kita harus memilih topik
pidato atau topik dakwah yang
sesuai dengan waktu yang tersedia
dan situasi yang terjadi. Jika Anda
diberikan waktu untuk berbicara
selama 10 menit, janganlah Anda
memilih topik yang terlalu luas yang
tidak mungkin dijelaskan dalam
waktu 10 menit. Jika Anda harus
berbicara di hadapan para santri
yang rata-rata usianya belum akil
baligh, janganlah Anda memilih
topik dakwah tentang tata cara
hubungan suami-istri, bicaralah
tentang kebersihan sekolah,
misalnya.
7. Topik harus dapat ditunjang dengan
bahan yang lain
Jika Anda memilih topik tentang
Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi
bahan pembicaraan Anda dengan
sumber-sumber rujukan (bisa
berupa: kitab, buku, atau perkataan
ulama) yang sesuai.
Merumuskan Judul Pidato
Hal yang erat kaitannya dengan topik
adalah judul. Bila topik adalah pokok
bahasan yang akan diulas, maka judul
adalah nama yang diberikan untuk pokok
bahasan itu. Seringkali judul telah
dikemukakan lebih dahulu kepada
khalayak, karena itu judul perlu dirumuskan
terlebih dahulu. Judul yang baik harus
memenuhi tiga syarat, yaitu: relevan,
propokatif, dan singkat. Relevan artinya
ada hubungannya dengan pokok-pokok
bahasan; Propokatif artinya dapat
menimbulkan hasrat ingin tahu dan
antusiasme pendengar; Singkat berarti
mudah ditangkap maksudnya, pendek
kalimatnya, dan mudah diingat.
Menentukan Tujuan Pidato
Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan
umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal:
memberitahukan (informatif),
mempengaruhi (persuasif), dan menghibur
(rekreatif).
Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat
dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan
khusus bersifat kongkret dan sebaiknya
dapat diukur tingkat pencapaiannya atau
dapat dibuktikan segera.
Hubungan antara topik judul, tujuan umum,
dan tujuan khusus dapat dilihat pada
contoh-contoh di bawah ini:
1. Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf
Judul : Pemaaf Sumber
Kebahagiaan
Tujuan Umum : Informatif (memberi
tahu)
Tujuan Khusus: Pendengar
mengetahui bahwa:
a. Sifat dendam menimbulkan
gangguan jasmani dan rohani
b. Sifat pemaaf menimbulkan
ketentraman jiwa dan kesehatan
2. Topik : Keuntungan mengikuti sholat
berjamaah
Judul : Sholat berjamaah adalah
keutamaan sholat
Tujuan Umum : Mempengaruhi
(Persuasif)
Tujuan Khusus :
a. Pendengar memperoleh
keyakinan tetantang keutamaan
sholat berjamaah
b. Pendengar berbondong-bondong
sholat berjamaah di masjid
3. Topik : Kisah-kisah lucu zaman Nabi
dan Khalifah
Judul : Yang benar menang, yang
salah kalah
Tujuan Umum : Menghibur
(rekreatif)
Tujuan Khusus :
Pendengar dapat menikmati kisah
lucu Ratu Balqis dikerjai oleh Nabi
Sulaiman, Siti Zulaikha menggoda
Nabi Yusuf, atau Abu Nawas
menjawab teka-teki raja, dan lain-
lain.
Perlu diingat, bahwa dalam kenyataannya
tidak ada pidato yang berdiri sendiri.
Sebuah pidato atau topik pidato bisa berisi
ketiga-tiganya; artinya, dalam pidato atau
dakwah bisa ada unsur informatif,
sekaligus persuasif dan rekreatif. Dengan
kata lain, dalam sebuah kegiatan
berdakwah, bisa ada unsur memberitahu,
mempengaruhi (mengajak), dan juga
menghibur. Coba Anda ingat kembali,
bagaimana K.H. Zainudin M.Z. berdakwah,
di samping memberi ceramah, beliau pun
menyeru dan ngabodor. Dakwah yang baik
adalah yang mengandung ketiga unsur
tujuan tersebut.
Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan
Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita
memerlukan keterangan untuk menunjang
topik tersebut. Keterangan penunjang
(supporting points) dipergunakan untuk
memperjelas uraian, memperkuat kesan,
menambah daya tarik, dan mempermudah
pengertian.
Ada enam macam teknik pengembangan
bahasan dalam berpidato:
1. Penjelasan
2. Contoh
3. Analogi
4. Testimoni
5. Statistik
6. Perulangan
Penjelasan. Penjelasan adalah
memberikan keterangan terhadap istilah
atau kata-kata yang disampaikan.
Memberikan penjelasan dapat
dilakukan dengan cara memberikan
pengertian atau definisi. Misalnya,
istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan
dengan kalimat: “Iman adalah rasa
percaya dan yakin akan kebenaran
adanya Allah di dalam hati dan
dibuktikan dengan perbuatan
melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya.”
Contoh. Contoh adalah upaya untuk
mengkongkretkan gagasan, sehingga
lebih mudah untuk dipahami. Contoh
dalam pidato dapat berupa cerita yang
rinci yang disebut ilustrasi. Untuk
memberikan contoh tetantang
kesabaran, misalnya Anda
menggunakan cerita tentang kesabaran
Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan
Allah melalui penyakit kulit yang
dideritanya.
Analogi. Analogi adalah perbandingan
antara dua hal atau lebih untuk
menunjukkan persamaan atau
perbedaannya. Ada dua macam
analogi: analogi harfiyah dan analogi
kiasan.
Analogi harfiyah (literal analogy) adalah
perbandingan di antara objek-objek dari
kelompok yang sama, karena adanya
persamaan dalam beberapa aspek tertentu.
Misalnya, membandingkan manusia dengan
monyet secara biologis. Analogi kiasan
adalah perbandingan di antara objek-objek
di antara kelompok yang tidak sama.
Misalnya, membandingkan ke-Esaan Allah
dengan menggunakan ayat Al-Quran dan
Injil.
Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli
yang kita kutip untuk menunjang
pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat
kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan di
surat kabar, acara televisi, dan lain-lain,
termasuk kutipan dari kitab suci, hadits, dan
sejenisnya. Misalnya, untuk memperkuat
perkataan Anda tentang betapa mulianya
akhlak Nabi Muhammad SAW, Anda
mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah atau Bukhori-Muslim.
Statistik. Statistik adalah angka-angka yang
dipergunakan untuk menunjukkan
perbandingan kasus dalam jenis tertentu.
Statistik diambil untuk menimbulkan kesan
yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan.
Misalnya, untuk melukiskan betapa
bokbroknya akhlak generasi muda di
Indonesia, Anda menggunakan kalimat,
“Wahai saudara-saudara, menurut hasil
penelitian, saat ini lebih dari 65 persen
remaja di Indonesia telah melakukan
hubungan seks sebelum nikah…”
Perulangan. Perulangan adalah
menyebutkan kembali gagasan yang sama
dengan kata-kata yang berbeda.
Perulangan berfungsi untuk menegaskan
dan mengingatkan kembali.
Dengan menggunakan keenam teknik
pengembangan pokok bahasan tersebut
(secara berganti-ganti), maka pidato atau
dakwah yang Anda sampaikan insya Allah
tidak akan membosankan pendengar, tapi
sebaliknya dakwah Anda akan tampak
penuh variasi dan tidak membosankan
untuk didengar.
TAHAP PENYUSUNAN PIDATO
Seringkali kita mendengar seseorang yang
berpidato panjang tanpa memperoleh apa-
apa daripadanya selain kelelahan dan
kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan
pembicara mempunyai bahan yang banyak
tetapi tidak mampu mengorganisasikannya.
Pidato yang tidak teratur, bukan hanya
menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga
akan membingungkan pembicaranya itu
sendiri. Ibarat pakaian yang harganya
sangat mahal, pasti akan membuat orang
yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai
secara acak-acakan. Herbert Spencer
pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang
itu tidak teratur, maka makin banyak
pengetahuan yang dimilikinya, makin besar
pula kekacauan pikirannya.”
Pada pidato, keteraturan merangkai kata-
kata akan sangat menentukan daya tarik
pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main
dengan peluru, maka orator (jago pidato)
bermain dengan kata-kata. Bagaimana
kata-kata itu harus kita mainkan dalam
pidato? Kita akan membahasnya secara
teknis.
Prinsip-prinsip Komposisi Pidato
Banyak cara menyusun pesan pidato, tetapi
semuanya harus didasari dengan tiga
prinsip komposisi. Prinsip-prinsip ini
mempengaruhi seluruh organisasi pesan.
Raymond S. Ross berkata, “These three
great rhetorical principles…have a profound
bearing upon how we should organize
messages.” Ketiga prinsip itu adalah:
kesatuan (unity), pertautan (coherence),
dan titik berat (emphasis).
Kesatuan (unity)
Komposisi yang baik harus merupakan
kesatuan yang utuh, yang meliputi kesatuan
dalam isi, tujuan, dan sifat (mood). Dalam
isi, harus ada gagasan tunggal yang
mendominasi seluruh uraian, yang
menentukan dalam pemilihan bahan-bahan
penunjang. Bila tema dakwah kita adalah
“Pembuktian Adanya Tuhan Secara
Aqliyah”, maka kita tidak membicarakan
sifat-sifat Tuhan, macam-macam Tuhan,
atau dalil-dalil naqli tentang adanya Tuhan.
Di sini kita mungkin hanya membicarakan
argumentasi logika dan moral tentang
keberadaan Tuhan dihubungkan dengan
mahluk ciptaan-Nya; setiap benda ciptaan
dihubungkan dengan yang
menciptakannya; ada ciptaan pasti ada
pencipta.
Komposisi juga harus mempunyai satu
macam tujuan. Satu tujuan di antara yang
tiga -memberitahukan, mempengaruhi, dan
menghibur- harus dipilih. Dalam pidato
mempengaruhi (persuasif) boleh saja kita
menyelipkan cerita-cerita lucu, sepanjang
cerita lucu itu menambah daya persuasi.
Bila cerita lucu itu tidak ada hubungannya
dengan persuasi, betapa pun menariknya ia
harus kita buang. Dalam pidato informatif,
humor dipergunakan dengan pertimbangan
dapat memperjelas uraian.
Kesatuan juga harus tampak dalam sifat
pembicaraan (mood). Sifat pembicaraan
mungkin serius, informal, formal, anggun,
atau bermain-main. Kalau Anda memilih
sifat informal, maka suasana formalitas
harus mendominasi seluruh uraian. Ini
menentukan pemilihan bahan, gaya
bahasa, atau pemilihan kata-kata. Misalnya,
dalam suasana informal gaya pidato seperti
bercakap-cakap (conversational) dan akrab
(intimate) lebih tepat untuk digunakan
dibanding gaya pidato ceramah.
Untuk pempertahankan kesatuan dalam
pidato, bukan saja diperlukan ketajaman
pemikiran, tetapi juga kemauan untuk
membuang hal-hal yang mubazir.
Kurangnya kesatuan akan menyebankan
pendengar menilai pidato kita sebagai
pidato yang “ngawur” bertele-tele, tidak
jelas apa yang dibicarakan, “meloncat-
loncat”.
Pertautan (coherence)
Pertautan menunjukkan urutan bagian
uraian yang berkaitan satu sama lain.
Pertautan menyebabkan perpindahan dari
pokok yang satu kepada pokok yang
lainnya berjalan lancar. Sebaliknya,
hilangnya pertautan menimbulkan gagasan
yang tersendat-sendat atau pendengar
tidak akan mampu menarik gagasan pokok
dari seluruh pembicaraan. Ini biasanya
disebabkan perencanaan yang tidak
memadai, pemikiran yang ceroboh, dan
penggunaan kata-kata yang jelek.
Untuk memelihara pertautan dapat
dipergunakan tiga cara: ungkapan
penyambung (connective phrases),
pararelisme, dan gema (echo). Ungkapan
penyambung adalah sebuah kata atau lebih
yang digunakan untuk merangkaikan
bagian-bagian. Contoh-contoh ungkapan
penyambung: karena itu, walaupun, jadi,
selain itu, sebaliknya, misalnya, sebagai
contoh, dengan perkataan lain, sebagai
ilustrasi, bukan saja, … dan sebagainya.
Paralelisme ialah mensejajarkan struktur
kalimat yang sejenis dengan ungkapan
yang sama untuk setiap pokok
pembicaraan. Misalnya, “Ulama sebagai
Pemuka Pendapat memiliki empat ciri: Ia
mengetahui lebih banyak, ia berpendidikan
lebih tinggi, ia mempunyai status sosial
yang lebih terhormat, dan ia lebih sering
bepergian ke luar sistem sosial
dibandingkan dengan anggota masyarakat
yang lain.”
Gema (echo) berarti kata atau gagasan
dalam kalimat terdahulu diulang kembali
pada kalimat baru. Pada contoh di bawah
ini, yang dicetak miring adalah “gema”.
Keempat ciri ulama di atas sangat
menentukan tingkat partisipasinya
dalam mengemukakan pendapat.
Yang disebut terakhir, yaitu sering
bepergian ke luar sistem sosial,
sangat besar pengaruhnya
terhadap kemampuan ulama dalam
menyerap ide-ide pembaruan.
Gema dapat berupa persamaan
kata (sinonim), perulangan kata, kata ganti
seperti itu, itu, hal tersebut, ia, mereka, atau
istilah lain yang menggantikan kata-kata
yang terdahulu.
Titik Berat (emphasis)
Bila kesatuan dan pertautan membantu
pendengar untuk mengikuti dengan mudah
jalannya pembicaraan, titik berat
menunjukkan mereka pada bagian-bagian
penting yang patut diperhatikan. Hal-hal
yang harus dititikberatkan bergantung pada
isis komposisi pidato, tetapipokok-pokoknya
hampir sama. Gagasan utama (central
ideas), ikhtisar uraian, pemikiran baru,
perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan
khalayak pendengar adalah contoh-contoh
bagian yang harus dititikbrratkan, atau
ditekankan. Dalam pesan tertulis, titik berat
dapat dinyatakan dengan tanda garis
bawah, huruf miring, huruf tebal, atau huruf
besar. Dalam uraian lisan, titik berat dapat
dinyatakan dengan hentian, tekanan suara
yang dinaikkan, perubahan nada (intonasi),
isyarat, dan sebagainya. Dapat pula
didahului dengan keterangan penjelas
seperti “Akhirnya sampailah pada inti
pembicaraan saya”, atau “Saudara-
saudara, yang terpenting bagi kita adalah
…”, dan sebagainya.
Teknik Menyusun Pesan Pidato
H.A. Overstreet, seorang ahli ilmu jiwa
untuk mempengaruhi manusia, berkata, “let
your speech march”. Suruh pidato Anda
berbaris tertib seperti barisan tentara dalam
suatu pawai. Pidato yang tersusun tertib
(well-organized) akan menciptakan
suasana yang favorable, membangkitkan
minat, memperlihatkan pembagian pesan
yang jelas, sehingga memudahkan
pengertian, mempertegas gagasan pokok,
dan menunjukkan perkembangan pokok-
pokok pikiran secara logis.
Pengorganisasian pesan dapat dilihat
menurut isi pesan itu sendiri atau dengan
mengikuti proses berpikir manusia. Yang
pertama kita sebut organisasi pesan
(messages organization) dan yang kedua
disebut pengaturan pesan (message
arrangement).
Organisasi Pesan
Organisasi pesan dapat mengikuti enam
macam urutan (sequence), yaitu: deduktif,
induktif, kronologis, logis, spasial, dan
topikal. Urutan deduktif dimulai dengan
menyatakan dulu gagasan utama,
kemudian memperjelasnya dengan
keterangan penunjang, penyimpulan, dan
bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita
mengemukakan perincian-perincian dan
kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda
menyatakan dulu mengapa perlu
menghentikan kebiasaan merokok, lalau
menguraikan alasan-alasannya, Anda
menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila
Anda menceritakan sekian banyak contoh
dan pernyataan dokter tentang akibat buruk
merokok dan kemudian Anda
menyimpulkan bahwa rokok berbahaya
bagi kesehatan, maka Anda menggunakan
urutan induktif.
Dalam urutan kronologis, pesan disusun
berdasarkan urutan waktu terjadinya
peristiwa. Bila Anda diminta untuk
berbicara tentang perjalanan Nabi
Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan
Mi’raj, Anda dapat membagi pesan sebagai
berikut: (1) Kisah Perjalanan Nabi
Muhammad dan Malaikat Jibril dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa dan (2) Kisah
Perjalan Nabi dan Malaikat Jibril dari
Masjidil Aqsa ke Mustawan.
Dalam urutan logis, pesan disusun
berdasarkan sebab ke akibat atau dari
akibat ke sebab. Bila Anda menjelaskan
proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu
ke gejala-gekalnya, maka Anda mengikuti
urutan logis dari sebab ke akibat. Tetapi
jika Anda memulai pembicaraan dari gejala-
gejala atau tanda-tanda kekufuran, seperti
seringnya seseorang bebuat syirik,
meninggalkan kewiban sholat, memuja
kuburan, lalu kemudian menjelaskan sebab-
sebabnya, maka Anda mengikuti urutan
logis dari akibat ke sebab.
Dalam urutan spasial, pesan disusun
berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan
jika pesan berhubungan dengan subjek
geografis atau keadaan fisik lokasi.
Ceramah tentang kisah perjuangan Nabi
Muhammad SAW dalam menyebarkan
agama Islam, dapat disusun: (1) Kisah
perjuangan Nabi di ketika di Mekah dan (2)
Kisah Perjuangan Nabi di Madinah.
Dalam urutan topikal, pesan disusun
berdasarkan topik pembicaraan:
klasifikasinya, dari yang penting ke yang
kurang penting, dari yang mudah ke yang
sukar, dari yang dikenal ke yang asing.
Ketika Anda diminta untuk berceramah
tentang “Tiga Mutiara Hidup”, Anda
menyusun topik pembicaraan mulai dari
membicarakan masalah: Iman, Islam, dan
Ikhsan, maka pidato Anda dapat dikatakan
menggunakan urutan secara kronologis.
Pengaturan Pesan
Bila pesan sudah terorganisasi dengan
baik, kita masih perlu menyesuaikan
organisasi pesan ini dengan cara berpikir
khalayak pendengar. Urutan pesan yang
sejalan dengan proses berpikir manusia
disebut oleh Alan H. Monroe sebagai
motivated sequence (urutan bermotif).
Menurut Monroe, ada lima tahap urutan
bermotif: perhatian (attention), kebutuhan
(needs), pemuasan (satisfaction),
visualisasi (visualization), dan tindakan
(action).
Dengan demikian, pidato yang baik dan
efektif adalah pidato yang sejak awal
mampu membangkitkan perhatian khalayak
pendengar, mampu membuat pendengar
merasakan adanya kebutuhan tertentu,
memberikan petunjuk bagaimana cara
memuaskan kebutuhan tersebut, dapat
menggambarkan dalam pikirannya
penerapan usul yang dianjurkan
kepadanya, dan akhirnya mampu
menggerakkan khalayak untuk bertindak
sesuai anjuran kita.
Misalnya, kita akan mengajak seseorang
untuk memotong rambutnya yang
gondrong. Anda memuali pembicaraan
dengan melontarkan perkataan: “Lihat
rambutmu!!! Kutu-kutu bergelantungan
dengan bebasnya…” Anda sedang
memasuki tahap perhatian. Lalu Anda
berkata lagi, “Kutu-kutu itu tentu membuat
kepalamu gatal dan kamu pasti tidak bisa
tidur nyenyak…” Anda tengah berada pada
tahap membangkitkan kebutuhan.
“Memotong rambut itu mudah dan murah,
cukup dengan uang Rp 3.000 atau bahkan
gratis…” Anda masuk pada tahap
pemuasan. “Jika kamu tetap membiarkan
rambutmu jabrig begitu dan membebaskan
kutu-kutu menyedot darahmu, kamu tampak
seperti orang kurang waras dan mustahil
gadis-gadis di desa ini akan tertarik
kepadamu…, tapi jika kamu cepat
memotong dan merapihkan rambutmu,
kutu-kutu itu akan segera mengucapkan
selamat tinggal pada kepalamu dan gadis-
gadis cantik akan mengucapkan selamat
datang arjunaku…” Anda sudah masuk
pada tahap visualisai. “Ayo, cukurlah
rambutmu sekarang…!!!” Anda melakukan
tahap tindakan.
Membuat Garis-garis Besar Pidato
Garis-garia besar (out-line) pidato
merupakan pelengkap yang amat berharga
bagi pembicara yang berpengalaman dan
merupakan keharusan bagi pembicara yang
belum berpengalaman. Garis besar pidato
ibarat peta bumi bagi komunikator yang
akan memasuki daerah kegiatan retorika.
Peta ini memberikan petunjuk dan arah
yang akan dituju. Garis besar yang salah
akan mengacaukan “perjalanan”
pembicaraan, dan garis besar yang teratur
akan menertibkan “jalannya” pidato.
Garis-garis besar pidato yang baik terdiri
dari tiga bagian: pengantar, isi, dan
penutup. Dengan menggunakan urutan
bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat
membaginya menjadi lima bagian:
perhatian, kebutuhan, pemuasan,
visualisasi, dan tindakan. Perhatian
ditempatkan pada pengantar; kebutuhan,
pemuasan, dan visualisasi kita tempatkan
pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada
penutup pidato.
TAHAP MENYAMPAIKAN PIDATO
Kita seringkali menyaksikan seseorang
yang berpidato di mimbar bergetar (dalam
bahasa Sunda: ngadegdeg), suaranya
tersendat-sendat, muka dan badanya
basah kuyup karena guyuran keringat yang
mengalir deras. Hadirin diam, terkesima…
bukan karena kagum pada penampilanny
tetapi karena ………. kasihan dan tidak
tega melihatnya. Dalamilmu komunikasi,
keadaan seperti itu disebut kecemasan
berkomunikasi (communication
apprehension).
Kecemasan berkomunikasi adalah batu
sandungan yang besar bagi seorang
pembicara. Ia menghilangkan kepercayaan
diri. Kecemasan berkomunikasi amat
mempengaruhi kredibilitas komunikator.
Betapa pun bagusnya pesan yang Anda
sampaikan, betapa pun sistematisnya
organisasi pesan yang Anda buat, tanpa
kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda
akan kehilangan pengaruh dan pendengar
sekaligus.
Sebab-sebab Kecemasan Komunikasi
Orang mengalami kecemasan komunikasi
disebabkan beberapa hal. Pertama, tidak
tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak
tahu bagaimana memulai pembicaraan. Ia
tidak dapat memperkirakan apa yang
diharpkan pendengar. Ia menghadapi
sejumlah ketidakpastian. Untuk mengatasi
sebab pertama ini, latihan dan pengalaman
sangat diperlukan. Pengetahuan tentang
retorika akan memberikan kepastian ke
[adanya untuk memulai, melanjutkan, dan
mengakhiri pembicaraan. Latihan-latihan
akan memberikan pengalaman. Melalui
latihan, ia akan dapat memastikan, atau
paling tidak menduga, reaksi
pendengarnya. Resepnya: “Bisa karena
biasa”. Dale Carnegie memberikan nasihat
yang singkat, “Lakukan apa yang Anda
takut melakukannya”. Jadi, jika Anda takut
berbicara di depan khalayak (orang
banyak), cobalah berbicara di depan
mereka.
Sayang sekali, orang yang takut berpidato
justru selalu menghindari kesempatan untuk
itu. Makin sering ia menghindari bicara,
makin sulit ia untuk melakukannya. Bila
suatu saat ia “terjebak” untuk berbicara, ia
tentu akan mengalami peristiwa yang
sangat traumatis. Terjadilah lingkaran
setan, ia makin membenci pidato, dan
karena kebenciannya itu ia akan gagal
terus dalam berpidato. Akhirnya,
terbentuklah citra diri (self image): Saya
tidak mempunyai bakat untuk berpidato.
Saya tidak mampu berpidato. Saya memang
tidak dilahirkan untuk berpidato, tetapi
untuk mendengar. Dengan citra diri seperti
itu, ia tidak akan memiliki kepercayaan diri
(self confidence). Tanpa kepercayaan diri,
ia gagal. Kegagalan akan memperburuk lagi
citra diri. Begitulah seterusnya, seperti
lingkaran setan.
Kedua, orang menderita kecemasan
komunikasi karena tahu ia akan dinilai oleh
orang lain. Berhadapan dengan penilaian
membuat orang menjadi gugup atau
nervous. Penilaian dapat mengangkat dan
menjatuhkan harga dirinya. Tetapi pada
umumnya kita memperhatikan yang kedua.
Bagaimana bila kita dipermalukan orang?
Alangkah malunya bila humor yang kita
buat tidak membuat orang tertawa, tetapi
justru membuat orang menertawakan kita?
Bagaimana kalau kita kelihatan tolol dan
bodoh di hadapan orang banyak? Semua
yang dutakutkan itu sebenarnya lebih
banyak terdapat di dalam pikiran dan
perasaan kita daripada dalam kenyataan.
Seandainya pidato kita gagal, harga diri kita
tidaklah akan jatuh serendah itu. Apalagi,
berdasarkan pengalaman, kegagalan itu
hanya terjadi pada percobaan-percobaan
yang pertama saja, dan khalayk pendengar
pun pasti memakluminya. Bukankah kita
dulu waktu kecil pernah jatuh berkali-kali
sebelum dapat berjalan dan berlari kencang
seperti sekarang ini?
Ketiga, kecemasan komunikasi dapat
menimpa pemula, bahkan mungkin juga
menimpa orangorang yang terkenal
sebagai pembicara yang baik. Hal ini dapat
terjadi jika pembicara berhadapan dengan
situasi yang asing dan ia tidak siap.
Misalnya, ia diminta berbnicara dihadapan
khalayak yang tidak ia kenal dan mereka
tidak mengenalnya; atau ia harus berbicara
tentang persoalan yang sama sekali tidak
dikuasainya; atau ia tidak punya cukup
waktu untuk membuat persiapan. Cara
mengatasinya: lakukan analisis situasi dan
analisis khalayak, carilah topik pembicaraan
yang paling Anda kuasai sehingga Anda
tampak kredibel.
Cara-cara Penyampaian Pidato
Tahapan yang dilakukan dalam
menyampaikan pidato secara garis besar
terdiri dari tiga tahap: (1) Tahap Membuka
Pidato, (2) Tahap Mengembangkan Isi
Pidato, dan (3) Tahap Menutup Pidato.
Pembukaan pidato adalah bagian penting
dan menentukan. Kegagalan dalam
membuka pidato akan menghancurkan
seluruh komposisi dan presentasi pidato.
Tujuan utama pembukaan pidato adalah
membangkitkan perhatian , memperjelas
latar belakang pembicaraan, dan
menciptakan kesan yang baik mengenai
komunikator. “Perhatian akan menentukan
tindakan,” kata William James. Tetapi kesan
pertama akan menentukan sikap. Karena
itu seorang pembicara harus memulai
pembicaraannya dengan penuh
kesungguhan, sehingga ia kelihatan
mantap, berwibawa, dan mampu. Ucapan-
ucapan apologetis seperti minta maaf atau
sikap merendahkan diri semuanya harus
Anda hindari. Walaupun demikian, tidak
baik pula Anda menepuk dada dan
menyombongkan diri.
Hal pertama kali yang harus Anda lakukan
dalam tahap ini (tahap pembukaan) adalah
mengesankan agar pendengar siap untuk
memperhatikan Anda. Bangkitkan perhatian
pendengar pada Anda dan topik yang akan
Anda sampaikan! Bagaimana caranya? Di
bawah ini diuraikan pedoman dalam
membuka pidato, Anda dapat memilih salah
satu di antara cara-cara di bawah ini:
Langsung menyebutkan pokok
persoalan.
Komunikator (orang yang
melakukan pidato) menyebutkan
ahal yang akan dibicarakannya dan
memberikan kerangka
pembicaraannya. Cara ini biasanya
dilakukan bila topik adalah pusat
perhatian khalayak. Di depan
hadirin yang sudah lama menanti
penjelasan tentang hukum waris
(faro’id), seorang mubaligh memulai
pidatonya sebagai berikut:
Saudara-saudara, pagi ini saya
akan membicarakan cara-cara
mengatur dan membagi-bagikan
harta warisan kepada ahli waris
menurut hukum Islam.
2. Melukiskan latar belakang masalah
Komunikator menerangkan sejarah
topik, membatasai pengertian, dan
menyatakan masalah-masalah
utamanya. Mengapa timbul
persoalan itu, apa hubungannya
dengan khalayak, dan mengapa
dipilih masalah itu. Seorang
mubaligh yang berbicara tentang
pentingnya infak memulai pidatonya
seperti ini:
Saudara-saudara, sudah lama kita
mengetahui bahwa banyak usaha
amal shalih yang tidak dapat
dijalankan karena kekuarangan
dana. Islam mengajarkan cara
mengumpulkan dana yang disebut
infak. Infak adalah kelebihan harta
yang digunakan untuk proyek yang
produktif bagi masyarakat. Al Quran
mengatakan bahwa infak adalah
satu ciri orang yang takwa, ciri
saudara-saudara yang beriman
kepada Allah dan hari akhir…
3. Menghubungkan dengan peristiwa
mutakhir atau kejadian yang tengah
menjadi pusat perhatian khalayak
Dengan menambatkan pembicaraan
kepada fokus perhatian khalayak,
kita mempunyai peluangyang baik
untuk memasukkan ide-ide kita dan
menimbulkan kesan yang kuat.
Sebagai contoh, pada tanggal 8
Desember 1941, Franklin D.
Roosevelt, Presiden Amerika
Serikat, menyamoaikan pidato
pernyataan perang kepada Jepang
di depan kongres dengan pidato
seperti ini:
Kemarin, 7 Desember 1941 –
tanggal yang akan tetap
abadi- Amerika Serikat tiba-
tiba dan secara sengaja
diserang oleh Angkatan
Laut dan Angkatan Udara
Kerajaan Jepang…
4. Menghubungkan dengan peristiwa
yang sedang diperingati
Ini biasanya dilakukan dalam pidato
untuk memperingati hari bersejarah,
bangunan baru, atau orang besar
yang sudah tiada. Cara ini dapat
pula dipakai pada pesta kelahiran,
perkawinan, selamatn, atau
upacara kematian. Seorang
mubaligh muda memulai pidatonya
dalam peringatan maulud nabi
sebagai berikut:
Saudara-saudara, hadirin sekalian!
Alangkah bahagianya kita, kaum
muslimin, pada hari ini. Pada hari
ini, kita masih diberikan kesempatan
umur sehingga kita dapat
memperingati kelahiran orang yang
paling kita junjung tinggi, Nabi Besar
Muhammad SAW. Banyak hikmah
yang dapat kita petik dari sejarah
kelahiran Rasulullah…
5. Menceritakan pengalaman pribadi
Pengalaman pembicara yang
menarik dapat membuka minat
pendengar. Pengalaman tersebut
akan terasa “dekat” dan “nyata”,
sebab orang yang mengalaminya
hadir ditengah-tengah khalayak.
Dalam sebuah kampanye Pemilu
tahun 1977, seorang juru kampanye
memulai pidatonya seperti ini:
Dua hari yang lalu saya berpidato di
tengah-tengah rakyat kecil di
Sukabumi. Udara terik membakar,
lapangan penuh sesak, dan
panggung tempat saya berdiri
dipenuhi pemuda-pemuda belasan
tahun. Tidak jauh dati panggung
berdiri seorang kakek. Mukanya
sudah keriput, punggungnya sudah
bongkok, tapi… pada matanya saya
lihat cahaya harapan yang menyala-
nyala untuk turut berjuang dengan
partai saya…
6. Membuat humor
Pembukaan jenis ini adalah yang
paling sukar. Bahkan beberapa
penulis buku teknik berpidato tidak
menganjurkannya. Tetapi bila
berhasil, pembukaan seperti ini
amat berkesan bagi pendengar.
Seorang Jenderal pensiunan
berpidato di hadapan para
purnawiraan dengan pembukaan
seperyti ini:
Saudara-saudara, sesama
purnawiraan!
Sebagai mantan prajurit kita patut
berbangga hati, sebab tentara itu
serba bisa. Tentara Indonesia itu
bisa menjalankan fungsi apa saja:
jadi bupati, bisa; jadi gubernur, bisa;
jadi presiden, bisa; yang tidak bisa
adalah menjalankan fungsi utama
yaitu…berperang!
Dengan pembukaab seperti itu,
hadirin mungkin tertawa terpingkal-pingkal
atau mungkin juga …marah dan memaki
pembicara.
Banyak sekali cara yang dapat kita
lakukan untuk membuka pidato. Coba lihat
kembali hal-hal yang dapat dijadikan topik
bahasan pidato pada halaman 3, itu pun
dapat dijadikan sumber untuk membuka
pidato.
Pengembangan isi pidato pada
dasarnya dilakukan dengan cara
memberikan uraian-uraian penjelasan
terhadap hal-hal yang disampaikan dalam
tahap pembukaan. Dalam tahap
mengembangkan isi pidato, gunakan teknik-
teknik pengembangan poko bahasan yang
sudah diuraikan di halaman 6, yakni:
penjelasan, contoh, analogi, statistik,
testimoni, dan perualangan.
Penutupan pidato adalah sama
pentingnya den gan pembukaan pidato,
dan sangat menentukan keberhasilan
pidato yang kita lakukan. Penutupan pidato
dapat dilakukan dengan cara-cara:
1. Menyimpulkan atau mengemukakan
ikhtisar pembicaraan
2. Menyatakan kembali gagasan utama
dengan kalimat dan kata yang
berbeda
3. Mendorong khalayak untuk bertindak
4. Mengakhiri dengan klimaks
5. Mengutamakan kutipan dari kitab
suci, peribahasa, atau ucapan
seorang ahli
6. Menceritakan contoh yang berupa
ilustrasi dari tema oembicaraan
7. Menerangkan maksud sebenarnya
pribadi pembicara
8. Memuji dan mengharghai khalayal
9. Membuat pernyataan yang humoris
atau anekdot lucu.
PRINSIP-PRINSIP PENYAMPAIAN
PIDATO
Dalam menyampaikan pidato ada tiga
prinsip atau rukun pidato, yakni:
1. Pelihara kontak visual dan kontak
mental dengan khalayak pendengar
(Kontak).
2. Gunakan Lambang-lambang auditif;
atau usahakan agar suara Anda
memberikan makna yang lebih kaya
pada bahasa Anda (Olah Vokal).
3. Berbicaralah dengan seluruh
kepribadian Anda; dengan wajah,
tangan, dan tubuh Anda (Olah
Visual).
PENUTUP
Dengan mengetahui teknik-teknik membuka
dan menutup pidato, bagi Anda terbuka
beberapa alternatif yang dapat Anda pilih.
Tetapi pada akhirnya, mutu teknik-teknik itu
tergantung pada kreativitas Anda sendiri.
Selamat belajar dan mencoba. Semoga
berhasil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: