LAPOR APARAT TAK DI GUBRIS, PERANGKAT DESA DI SIDOARJO LAPOR KE GP NSOR

: SebagaiSidoarjo (gp-ansor.org)
organisasi yang peduli terhadap kehidupan
sosial dan kemasyarakatan, GP Ansor
terus mendapatkan kepercayaan dari
masyarakat.
Rabu (15/2/2012) sejumlah jajaran
perangkat Desa Kedensari, Kecamatan
Tanggulangin, Sidoarjo mendatangi Kantor
PC GP Ansor, Jl KH Mukmin No. 64
Sidoarjo. Kedatangan para perangkat desa
ini melaporkan adanya warung kopi yang
diduga didalamnya juga menjual minuman
keras serta menyediakan wanita sebagai
hiburan.
Selain itu, mereka meminta agar Ansor
untuk mencarikan solusi yang baik dalam
menghadapi persoalan warung kopi “Satria”
yang keberadaannya dianggap sangat
meresahkan warga Desa Kedensari.
“Terus terang banyak warga yang resah,
tetapi mereka tidak berani melakukan
tindakan karena takut,” ujar HM Mughni,
Kepala Desa Kedensari.
Menurut Mughni, sebelumnya mereka
sudah melaporkannya kepada pihak Trantib
Kecamatan Tanggulangin maupun Polsek
setempat, namun tidak ada tindakan
apapun.
“Secara lisan kami sudah melaporkan
kepada Trantib, termasuk Polsek. Malah,
saya sendiri selaku Kepala Desa diminta
menghadapi sendiri,” jelasnya.
Mendapat laporan seperti itu Ketua Ansor
Sidoarjo, Agus Ubaidillah, mengatakan
akan segera menindaklanjuti masalah yang
meresahkan warga tersebut.
Meskipun, menurut Agus, Ansor tidak
memiliki wewenang untuk menertibkan
keberadaan warung maupun café yang
ditengarai menjual miras maupun wanita
penghibur itu. Namun, selaku organisasi
yang bergerak di bidang sosial
kemasyarakatan, Ansor wajib memberikan
pendampingan kepada masyarakat yang
membutuhkan.
“Jika dipandang perlu, pasti kami
melakukan advokasi sesuai dengan cara
kami sendiri,” tegas dia.
Diketahui, sebelumnya pemilik warung Kopi
“Satria” telah membuka usahanya di
kawasan Pasar Wisata Tanggulangin,
sebuah pasar yang khusus hanya
menyediakan tempat berjualan bagi
pengrajin tas dan koper.
Lantaran tidak sesuai dengan
peruntukannya, akhirnya pihak desa
meminta pemilik warung untuk menutup
warung tersebut. Sayangnya, penutupan
warung tersebut tidak berlangsung lama,
malah pemiliknya membuka usaha lagi di
dalam kampung Kedensari. Tragisnya lagi,
keberadaan warung kopi remang-remang
tersebut berada di dekat Masjid desa, yakni
hanya berjarak 20 meter.
“Inilah yang membuat warga resah,”
tambahnya.
sumber :www.lensaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: